Dalam rangka seleksi relawan pangan tangguh yang diselenggarakan PUSKAPENA UGM tapi gagal lolos, biar lebih bermanfaat saya tulis disini aja biar lebih banyak yang memanfaatkan. Kalau menyalin isi tulisan tolong cantumkan sumbernya yaa
Menjadi Mandiri Menuju Solusi
(Ditulis Oleh Linaf Listarif, S.Pt.)
Indonesia merupakan
Negara kepulauan, baik yang sudah berpenghuni maupun yang belum berpenghuni. Banyaknya
pulau di Indonesia baik yang besar maupun yang kecil menyebabkan adanya perbedaan
kondisi antar pulau. Kondisi tersebut meliputi baik kondisi geografis, kondisi sosial, maupun
kondisi akses menuju kota-kota besar. Perbedaan kondisi geografis yang meliputi
perbedaan iklim, kesuburan tanah, potensi bencana alam, ketersediaan air Keadaan
ini menyebabkan banyaknya perbedaan juga keadaan kesejahteraan masyarakatnya, juga
termasuk kondisi ketahanan pangan masing-masing daerah.
Ketahanan pangan menurut
Undang-Undang No. 18 tahun 2012 adalah kondisi setiap orang di setiap rumah tangga,
terpenuhinya kebutuhan makanan baik secara kuantitas dan kualitas setiap saat
yang berguna untuk kesehatan, keaktifan, produktivitas, dan kesinambungan hidup
serta makanannya aman, tidak tercemar, bergizi, penyalurannya merata dan mudah
didapatkan, juga tidak ada konflik agama, kepercayaan ataupun budaya.
Ketahanan pangan
merupakan salah satu prioritas utama dalam rencana pembangunan jangka menengah
nasional 2015-2019 yang difokuskan pada peningkatan ketersediaan pangan,
pemantapan distribusi pangan, percepatan penganekaragam pangan dan pengawasan
keamanan pangan segar. Di sisi lain, pembangunan ketahanan pangan dilaksanakan
sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan
sebagai perwujudan pembangunan social, budaya, dan ekonomi sebagai bagian
pembangunan secara keseluruhan (Badan Ketahanan Pangan, 2016).
Luasnya Indonesia
membuat terdapat perbedaan kondisi antar daerah, ada daerah-daerah yang sebagai
penyangga pangan, ada juga beberapa daerah yang rentan rawan pangan. Menurut Food Security
and Vulnerability Atlas (FSVA) tahun
2015 terdapat dua bagian indikator untuk menentukan daerah rawan pangan yaitu
kerawanan pangan secara kronis dan sementara. Indikator kerawanan pangan
sementara meliputi faktor iklim dan lingkungan yang berakibat pada kerawanan
pangan dari ketersediaan dan daya jangkau pangan. Sedangkan indikator kerawanan
pangan kronis seperti ketersediaan makanan, daya jangkau makanan dan pemanfaatan makanan. Terdapat sembilan
indikator yang termasuk kerawanan pangan kronis yang dikombinasikan menjadi
indikator gabungan untuk menjelaskan keseluruhan keadaan ketahanan pangan suatu
daerah dan membuat rangking skala prioritas daerah. Berikut contoh indikator
untuk menentukan daerah rawan pangan.
Tabel 1. Indikator Rawan Pangan di Kecamatan Tanjung
Bumi Kabupaten Bangkalan menurut Suhartono (2010)
Dimensi
Kelompok Indikator
|
Indikator
|
|
Ketersediaan
pangan
|
1.
|
Konsumsi
normative perkapita terhadap ratio ketersediaan bersih padi, jagung, ubikayu
dan ubi jalar.
|
Akses
pangan dan mata pencaharian
|
2.
|
Persentase
penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan
|
3.
|
Persentase
Desa yang tidak bisa dilalui roda empat
|
|
4.
|
Persentase
Desa yang tidak mempunyai akses listrik
|
|
Kesehatan
dan gizi
|
5.
|
Angka
harapan hidup
|
6.
|
Berat
badan balita di bawah standar
|
|
7.
|
Persentase
perempuan buta huruf
|
|
8.
|
Angka
kematian bayi
|
|
9.
|
Persentase
penduduk tanpa akses air bersih
|
|
10.
|
Persentase
penduduk yang tinggal lebih dari 5 km dari puskesmas
|
|
Kerawanan
pangan
|
11.
|
Persentase
daerah berhutan
|
12.
|
Persentase
daerah puso
|
|
13.
|
Daerah
rawan banjir
|
|
14.
|
Penyimpangan
curah hujan
|
|
Krisis pangan terjadi
terutama di beberapa daerah yang terkena bencana alam seperti gempa bumi dan
banjir yang sempat terjadidalam kurun waktu terakhir (Hernanda, 2009 dalam
Muyassir dan Dahlan, 2010). Beberapa daerah di Indonesia ada yang termasuk
daerah rawan pangan diantaranya adalah Provinsi Aceh. Menurut Siswono (2007)
dalam Muyassir dan Dahlan (2010) Aceh dulunya tidak ada daerah yang dilaporkan
rawan pangan, namun sejak terjadi tsunami mulai ada beberapa daerah yang
berstatus rawan pangan. Untuk mengetahui kerawanan pangan di Provinsi Aceh
diidentifikasi dengan menggunakan indikator berikut:
1. Persentase
luas areal persawahan yang mengalami Puso
2. Kecenderungan
penurunan produktivitas padi
3. Persentase
luas panen terhadap luas tanam
4. Prevalensi
kurang energi protein pada balita
5. Persentase
keluarga prasejahtera dan sejahtera
6. Produk
domestic regional bruto
Menurut Muyassir dan
Dahlan (2010) menghasilkan kesimpulan kerawanan pangan di Aceh berdasarkan
indikator pertanian, kesehatan, dan social ekonomi termasuk 78,3% kerawanan
pangan tinggi. Sedangkan karakteristik dan faktor penyebab rawan pangan di
Provinsi Aceh adalah rendahnya produktivitas hasil pertanian sebagai akibat
dari cekaman alam dan pengelolaan teknik budidaya padi serta belum optimalnya
kemampuan sumberdaya ekonomi wilayah.
Sebenarnya masalah
kerawanan pangan di Provinsi Aceh dapat dikurangi dengan menambah variasi
pangan pokok selain padi. Pada saat ini masyarakat Aceh yang 100% makanan
pokoknya berasal dari padi, sedangkan produksi biji-bijiannya sebenarnya
mencukupi jika juga dikonsumsi pengganti nasi karena menurut Muyassir dan
Dahlan (2010) Provinsi Aceh yang menunjukkan rasio konsumsi terhadap ketersediaan
netto pangan biji-bijian perkapita perhari dan merupakan petunjuk kecukupan
pangan pada suatu wilayah.
Salah satu masalah
dalam pencapaian ketahanan pangan adalah ketergantungan terhadap bahan
pangan impor, terutama beras dan gandum.
Konsumsi pangan pokok Indonesia cenderung beras, serta konsumsi terigu semakin
meningkat dan konsumsi umbi-umbian menurun (Susilowati dan Saliem, 2017). Salah
satu upaya yang harus dioptimalkan adalah dengan meningkatkan variasi pangan
selain beras di tingkat konsumen, hal ini seperti yang ditunjukkan pada data
Badan Ketahanan Pangan tahun 2015 yang menunjukkan angka koefisien variasi
pangan (beras) di tingkat konsumen masih dibawah 10%. Padahal ketersediaan
bahan pangan lainnya, termasuk biji-bijian masih mencukupi. Selain itu
banyaknya potensi pangan local yang nilai nutrisinya tinggi namun belum
dioptimalkan pemanfaatannya, seperti sorghum. Padahal kandungan gizi sorghum
tidak kalah dengan beras, seperti yang terlihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Perbandingan Kandungan antara Sorghum dan
Beras (Triyanto, 2016)
Kandungan ukuran
|
Sorghum
|
Beras
|
Kalori (kal)
|
332
|
360
|
Protein (g)
|
11
|
7
|
Lemak (g)
|
3,30
|
6,70
|
Karbohidrat (g)
|
73
|
79
|
Air (%)
|
11,20
|
9,80
|
Serat (%)
|
2,30
|
1
|
Kalsium (mg)
|
28
|
6
|
Fosfor (mg)
|
287
|
147
|
Zat Besi (mg)
|
4,40
|
0,80
|
Sorghum
mempunyai potensi untuk dikembangkan di Indonesia karena mempunyai daerah
adaptasi yang luas . Potensi dan keunggulan yang dimiliki sorghum antara lain
dapat ditanam pada lahan suboptimal (lahan kering, lahan rawa dan lahan masam
yang tersedia cukup luas di Indonesia, sekitar 38,7 juta hektar) dengan
produktivitasnya yang cukup tinggi dan kandungan protein yang lebh tinggi dari
beras (Susilowati dan Saliem, 2017).
Sorghum
merupakan salah satu contoh pangan local yang potensial untuk dikembangkan
untuk menuju ketahanan pangan dan pengentasan daerah rawan pangan. Kandungan
gizi yang baik, kemampuan untuk dibudidaya yang sesuai dengan alam Indonesia
merupakan kelebihannya. Begitu juga dengan banyak potensi pangan local lain
yang sampai saat ini masih terabaikan. Yang masih sibuk untuk memenuhi
kebutuhan beras dengan impor.
Keberanian
mandiri melalui meningkatkan pemanfaatan sumber bahan pangan local, merupakan
solusi menuju ketahanan pangan dan pengentasan daerah rawan pangan.
Daftar
Pustaka
Badan Ketahanan
Pangan. 2016. Laporan Tahunan Badan Ketahanan Pangan tahun 2015. Kementrian
pertanian Indonesia
Dewan Ketahanan
Pangan and World Food Program (WFP).
2015. Food Security and Vulnerability
Atlas of Indonesia 2015. Published by
Dewan Ketahanan Pangan and World Food
Program (WFP). Available at http://documents.wfp.org
Muyassir dan
Dahlan. 2010. Peringkat Daerah Rawan Pangan Berdasarkan Data Spasial Di Provinsi Aceh. Avaiable at http://jurnal.umuslim.ac.id
Suhartono, 2010.
Indikator dan Pemetaan Daerah Rawan Pangan dalam Mendeteksi Keterawanan Pangan
di Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan. Avaiable at
http://pertanian.trunojoyo.ac.id
Susilowati, S.
H. dan Saliem, H. P. 2017. Perdagangan Sorghum di Pasar Dunia dan Asia Serta
Prospek Pengembangannya di Indonesia. Avaiable
at http://balitsereal.litbang.pertanian.go.id-uploads
Triyanto, KBT.
2016. Perbandingan Kandungan Gizi antara Sorghum dan Beras. Available at http://kabartani.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar