Cari Blog Ini

Selasa, 09 Januari 2018

Menjadi Mandiri Menuju Solusi


Dalam rangka seleksi relawan pangan tangguh yang diselenggarakan PUSKAPENA UGM tapi gagal lolos, biar lebih bermanfaat saya tulis disini aja biar lebih banyak yang memanfaatkan. Kalau menyalin isi tulisan tolong cantumkan sumbernya yaa


Menjadi Mandiri Menuju Solusi
(Ditulis Oleh Linaf Listarif, S.Pt.)

Indonesia merupakan Negara kepulauan, baik yang sudah berpenghuni maupun yang belum berpenghuni. Banyaknya pulau di Indonesia baik yang besar maupun yang kecil menyebabkan adanya perbedaan kondisi antar pulau. Kondisi tersebut meliputi  baik kondisi geografis, kondisi sosial, maupun kondisi akses menuju kota-kota besar. Perbedaan kondisi geografis yang meliputi perbedaan iklim, kesuburan tanah, potensi bencana alam, ketersediaan air Keadaan ini menyebabkan banyaknya perbedaan juga keadaan kesejahteraan masyarakatnya, juga termasuk kondisi ketahanan pangan masing-masing daerah.  
Ketahanan pangan menurut Undang-Undang No. 18 tahun 2012 adalah kondisi setiap orang di setiap rumah tangga, terpenuhinya kebutuhan makanan baik secara kuantitas dan kualitas setiap saat yang berguna untuk kesehatan, keaktifan, produktivitas, dan kesinambungan hidup serta makanannya aman, tidak tercemar, bergizi, penyalurannya merata dan mudah didapatkan, juga tidak ada konflik agama, kepercayaan ataupun budaya.
Ketahanan pangan merupakan salah satu prioritas utama dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional 2015-2019 yang difokuskan pada peningkatan ketersediaan pangan, pemantapan distribusi pangan, percepatan penganekaragam pangan dan pengawasan keamanan pangan segar. Di sisi lain, pembangunan ketahanan pangan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan sebagai perwujudan pembangunan social, budaya, dan ekonomi sebagai bagian pembangunan secara keseluruhan (Badan Ketahanan Pangan, 2016).
Luasnya Indonesia membuat terdapat perbedaan kondisi antar daerah, ada daerah-daerah yang sebagai penyangga pangan, ada juga beberapa daerah yang rentan rawan pangan. Menurut Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) tahun 2015 terdapat dua bagian indikator untuk menentukan daerah rawan pangan yaitu kerawanan pangan secara kronis dan sementara. Indikator kerawanan pangan sementara meliputi faktor iklim dan lingkungan yang berakibat pada kerawanan pangan dari ketersediaan dan daya jangkau pangan. Sedangkan indikator kerawanan pangan kronis seperti ketersediaan makanan, daya jangkau  makanan dan pemanfaatan makanan. Terdapat sembilan indikator yang termasuk kerawanan pangan kronis yang dikombinasikan menjadi indikator gabungan untuk menjelaskan keseluruhan keadaan ketahanan pangan suatu daerah dan membuat rangking skala prioritas daerah. Berikut contoh indikator untuk menentukan daerah rawan pangan.

Tabel 1. Indikator Rawan Pangan di Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan menurut Suhartono (2010)
Dimensi Kelompok Indikator
Indikator
Ketersediaan pangan
1.
Konsumsi normative perkapita terhadap ratio ketersediaan bersih padi, jagung, ubikayu dan ubi jalar.
Akses pangan dan mata pencaharian
2.
Persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan
3.
Persentase Desa yang tidak bisa dilalui roda empat
4.
Persentase Desa yang tidak mempunyai akses listrik
Kesehatan dan gizi
5.
Angka harapan hidup
6.
Berat badan balita di bawah standar
7.
Persentase perempuan buta huruf
8.
Angka kematian bayi
9.
Persentase penduduk tanpa akses air bersih
10.
Persentase penduduk yang tinggal lebih dari 5 km dari puskesmas
Kerawanan pangan
11.
Persentase daerah berhutan
12.
Persentase daerah puso
13.
Daerah rawan banjir
14.
Penyimpangan curah hujan

Krisis pangan terjadi terutama di beberapa daerah yang terkena bencana alam seperti gempa bumi dan banjir yang sempat terjadidalam kurun waktu terakhir (Hernanda, 2009 dalam Muyassir dan Dahlan, 2010). Beberapa daerah di Indonesia ada yang termasuk daerah rawan pangan diantaranya adalah Provinsi Aceh. Menurut Siswono (2007) dalam Muyassir dan Dahlan (2010) Aceh dulunya tidak ada daerah yang dilaporkan rawan pangan, namun sejak terjadi tsunami mulai ada beberapa daerah yang berstatus rawan pangan. Untuk mengetahui kerawanan pangan di Provinsi Aceh diidentifikasi dengan menggunakan indikator berikut:
1.      Persentase luas areal persawahan yang mengalami Puso
2.      Kecenderungan penurunan produktivitas padi
3.      Persentase luas panen terhadap luas tanam
4.      Prevalensi kurang energi protein pada balita
5.      Persentase keluarga prasejahtera dan sejahtera
6.      Produk domestic regional bruto

Menurut Muyassir dan Dahlan (2010) menghasilkan kesimpulan kerawanan pangan di Aceh berdasarkan indikator pertanian, kesehatan, dan social ekonomi termasuk 78,3% kerawanan pangan tinggi. Sedangkan karakteristik dan faktor penyebab rawan pangan di Provinsi Aceh adalah rendahnya produktivitas hasil pertanian sebagai akibat dari cekaman alam dan pengelolaan teknik budidaya padi serta belum optimalnya kemampuan sumberdaya ekonomi wilayah.
Sebenarnya masalah kerawanan pangan di Provinsi Aceh dapat dikurangi dengan menambah variasi pangan pokok selain padi. Pada saat ini masyarakat Aceh yang 100% makanan pokoknya berasal dari padi, sedangkan produksi biji-bijiannya sebenarnya mencukupi jika juga dikonsumsi pengganti nasi karena menurut Muyassir dan Dahlan (2010) Provinsi Aceh yang menunjukkan rasio konsumsi terhadap ketersediaan netto pangan biji-bijian perkapita perhari dan merupakan petunjuk kecukupan pangan pada suatu wilayah.
Salah satu masalah dalam pencapaian ketahanan pangan adalah ketergantungan terhadap bahan pangan  impor, terutama beras dan gandum. Konsumsi pangan pokok Indonesia cenderung beras, serta konsumsi terigu semakin meningkat dan konsumsi umbi-umbian menurun (Susilowati dan Saliem, 2017). Salah satu upaya yang harus dioptimalkan adalah dengan meningkatkan variasi pangan selain beras di tingkat konsumen, hal ini seperti yang ditunjukkan pada data Badan Ketahanan Pangan tahun 2015 yang menunjukkan angka koefisien variasi pangan (beras) di tingkat konsumen masih dibawah 10%. Padahal ketersediaan bahan pangan lainnya, termasuk biji-bijian masih mencukupi. Selain itu banyaknya potensi pangan local yang nilai nutrisinya tinggi namun belum dioptimalkan pemanfaatannya, seperti sorghum. Padahal kandungan gizi sorghum tidak kalah dengan beras, seperti yang terlihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Perbandingan Kandungan antara Sorghum dan Beras (Triyanto, 2016)
Kandungan ukuran
Sorghum
Beras
Kalori (kal)
332
360
Protein (g)
11
7
Lemak (g)
3,30
6,70
Karbohidrat (g)
73
79
Air (%)
11,20
9,80
Serat (%)
2,30
1
Kalsium (mg)
28
6
Fosfor (mg)
287
147
Zat Besi (mg)
4,40
0,80

            Sorghum mempunyai potensi untuk dikembangkan di Indonesia karena mempunyai daerah adaptasi yang luas . Potensi dan keunggulan yang dimiliki sorghum antara lain dapat ditanam pada lahan suboptimal (lahan kering, lahan rawa dan lahan masam yang tersedia cukup luas di Indonesia, sekitar 38,7 juta hektar) dengan produktivitasnya yang cukup tinggi dan kandungan protein yang lebh tinggi dari beras (Susilowati dan Saliem, 2017).
            Sorghum merupakan salah satu contoh pangan local yang potensial untuk dikembangkan untuk menuju ketahanan pangan dan pengentasan daerah rawan pangan. Kandungan gizi yang baik, kemampuan untuk dibudidaya yang sesuai dengan alam Indonesia merupakan kelebihannya. Begitu juga dengan banyak potensi pangan local lain yang sampai saat ini masih terabaikan. Yang masih sibuk untuk memenuhi kebutuhan beras dengan impor.
            Keberanian mandiri melalui meningkatkan pemanfaatan sumber bahan pangan local, merupakan solusi menuju ketahanan pangan dan pengentasan daerah rawan pangan.

Daftar Pustaka
Badan Ketahanan Pangan. 2016. Laporan Tahunan Badan Ketahanan Pangan tahun 2015. Kementrian pertanian Indonesia
Dewan Ketahanan Pangan and World Food Program (WFP). 2015. Food Security and Vulnerability Atlas of Indonesia 2015. Published by Dewan Ketahanan Pangan and World Food Program (WFP). Available at http://documents.wfp.org
Muyassir dan Dahlan. 2010. Peringkat Daerah Rawan Pangan Berdasarkan Data Spasial  Di Provinsi Aceh. Avaiable at http://jurnal.umuslim.ac.id
Suhartono, 2010. Indikator dan Pemetaan Daerah Rawan Pangan dalam Mendeteksi Keterawanan Pangan di Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan. Avaiable at http://pertanian.trunojoyo.ac.id
Susilowati, S. H. dan Saliem, H. P. 2017. Perdagangan Sorghum di Pasar Dunia dan Asia Serta Prospek Pengembangannya di Indonesia. Avaiable at http://balitsereal.litbang.pertanian.go.id-uploads
Triyanto, KBT. 2016. Perbandingan Kandungan Gizi antara Sorghum dan Beras. Available at http://kabartani.com

Tidak ada komentar: