Anak kecil itu, saat
melangkahkan kaki kecilnya menuju suatu dunia baru, dunia kampus, Universitas
Gadjah mada, kampus yang begitu WAH dalam benaknya, yang tak pernah dilepas
diimpikan setiap malam.
Anak itu, begitu bersuka
cita, harapan berbagi prestasi akademik pun sudah ia tulis secara rapi, dan
tergambarkan secara nyata tahapan pencapaiannya. Mulai dari lulus 3,5 tahun,
ipk 4, menjadi asisten lab, dan berbagai mimpi-mimpi lainnya. Inilah mimpi awal
anak itu, hanya prestasi akademik, dengan alasan yang biasa, agar mudah mendapatkan pekerjaan.
Waktu pun semakin berjalan,
yang semakin mengenalkannya dengan dunia kampus, dunia yang tidak hanya
memperkenalkannya dan mengijinkannya tentang masalah akademik saja, TIDAKKK….
Dunia ini mengenalkannya
pada satu kata yang sangat bermakna, Keluarga,
satu kata yang memberinya kenyamanan, kehangatan, dan yang terpenting ukhuwah islamiyah yang begitu lekat.
Hal ini mengawali pengenalannya dengan dunia kampus yang lebih dalam, mengenal
fungsi dan peran mahasiswa, yang ternyata bukan hanya masalah IPK, dan
akademis, tetapi tentang kebermanfaatan mahasiswa untuk lingkungan sekitarnya,
dalam berbagai bidang. Anak itu pun, semakin tertegun dengan firman Allah dalam
surat Ali Imran: 110, dan menjadikannya moto hidup.
öNçGZä. uöyz >p¨Bé& ôMy_Ì÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ cöqyg÷Ys?ur Ç`tã Ìx6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur ÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #Zöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB cqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ
110. Kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang
beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Setelah itupun, setiap
langkah yang dia ambil selalu yang memberikan kebermanfaatan ataupun yang
mencegah terjadinya kemungkaran. Pilihannya ini tidak mudah, sebagai anak yang
tinggal bersama orangtuanya di jogja ini, di bumi dakwah ini, dia dituntut juga
untuk tetap memberikan perhatian, semangat, dan harapannya untuk keluarganya
juga, selain dikampus. Tidak mudah, memang,. Untuk tetap memberikan semangat,
dan selalu tampak ceria, bersemangat, dan tanpa beban saat tiba di rumah,
walaupun dalam hati dan fikiran sangat banyak beban kampus yang harus dia
selesaikan, saat yang lain bisa liburan ke kampung halamannya, dengan
benar-benar birul walidain dan mengecas semangat, dia harus tetap tinggal
dengan tetap menyelesaikan beberapa amanah teman-temannya, tapi itulah
pilihannya, untuk tetap memilih jalan itu.
Rencana akademik,
berulangkali harus diganti, dirubah dan disesuaikan dengan kebutuhan dakwah
sangat sering dia alami, dan kembali ini pilihan yang berat, terutama ketika
orangtuanya menanyakan hal tersebut.
Kenapa
tidak kkn liburan antar semester 6?
insyaAllah
ada amanah yang memberikan manfaat lebih banyak bu, dan kan di kalender
akademik kkn juga semester8, jadi saya tidak menunda, tetapi menjalankan sesuai
waktunya, dan insyaAllah saya tidak akan terlambat lulus bu.
Itulah salah satu
konsekuensi dari setiap pilihannya. Menjelaskan dan memahamkkan orangtua
tentang pilihan-pilihannya yang tidak biasa, ya, tapi itulah pilihannya.
Tapi, apakah anak kecil itu
lantas mengabaikan akademiknya, amanah orangtuanya? TIDAK… dia faham, bahwa amanah orangtuanya pun ladang dakwah,
akademikpun dapat sebagai sarana dakwah kepada obyek dakwah yang berbeda,
kepada obyek dakwah yang lebih luas, diapun mengoptimalkannya. Menjaga prestasi
akademik, menuntaskan amanah dakwah secara bersamaan dan seimbang, memang susah
dan membutuhkan energi yang besar, waktu yang banyak dan fikiran yang berat,
tapi itulah pilihannya.
Sampai saat ini, semoga anak
kecil itu masih setia dengan pilihannya. Yang dapat kita doakan, semoga dia
dapat istiqomah dijalan dakwah, hingga jannah.
Setiap
orang besar, pasti mengalami hal-hal besar, ujian-ujian besar, beban-beban yang
besar, dan membutuhkan energi dan usaha yang besar untuk mencapainya, tapi
mengikhlaskan diri untuk memantaskan diri menjadi orang-orang yang luar biasa
dan hebat dengan tidak memilih pilihan yang biasa.
Sebuah lilin yang berkelip menyala pasti
padam juga ketika telah habis sumbu dan teruap minyaknya
Tetapi
lihat saja, dia tak pernah kehilangan apappun ketika berbagi apinya, menyalakan
lilin-lilin lain
Dalam
dekap ukhuwah, begitulah kenikmatan berbagi dengan umur kita yang fana, dengan
kekayaan tak seberapa mungkin saja banyak sesama yang bisa ikut bercahaya
Bahkan
dengarkanlah ad-Darani, lelaki yang banyak berbagi “suatu waktu” katanya,
“sedang kusuapi salah seorang saudaraku dan tiba-tiba kurasakan makanan itu
lezat dikerongkonganku”
Begitulah
dalam dekap ukhuwah, berbagi adalah keajaiban
(Salim
A. Fillah, dalam dekapan ukhuwah)
Special
untuk teman-teman yang menginginkan menjadi orang besar, tetapi masih
dibingungkan dengan pilihan-pilihan. Jangan berpathok pada pilihan anak kecil
itu, tapi tentukan sendiri pilihanmu, yang tepat dengan kebutuhan dakwah
disekitarmu.
