Cari Blog Ini

Selasa, 05 Februari 2013

anak kecil itu itu

Anak kecil itu, saat melangkahkan kaki kecilnya menuju suatu dunia baru, dunia kampus, Universitas Gadjah mada, kampus yang begitu WAH dalam benaknya, yang tak pernah dilepas diimpikan setiap malam.
Anak itu, begitu bersuka cita, harapan berbagi prestasi akademik pun sudah ia tulis secara rapi, dan tergambarkan secara nyata tahapan pencapaiannya. Mulai dari lulus 3,5 tahun, ipk 4, menjadi asisten lab, dan berbagai mimpi-mimpi lainnya. Inilah mimpi awal anak itu, hanya prestasi akademik, dengan alasan yang biasa, agar mudah mendapatkan pekerjaan.
Waktu pun semakin berjalan, yang semakin mengenalkannya dengan dunia kampus, dunia yang tidak hanya memperkenalkannya dan mengijinkannya tentang masalah akademik saja, TIDAKKK….
Dunia ini mengenalkannya pada satu kata yang sangat bermakna, Keluarga, satu kata yang memberinya kenyamanan, kehangatan, dan yang terpenting ukhuwah islamiyah yang begitu lekat. Hal ini mengawali pengenalannya dengan dunia kampus yang lebih dalam, mengenal fungsi dan peran mahasiswa, yang ternyata bukan hanya masalah IPK, dan akademis, tetapi tentang kebermanfaatan mahasiswa untuk lingkungan sekitarnya, dalam berbagai bidang. Anak itu pun, semakin tertegun dengan firman Allah dalam surat Ali Imran: 110, dan menjadikannya moto hidup.
öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ
110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Setelah itupun, setiap langkah yang dia ambil selalu yang memberikan kebermanfaatan ataupun yang mencegah terjadinya kemungkaran. Pilihannya ini tidak mudah, sebagai anak yang tinggal bersama orangtuanya di jogja ini, di bumi dakwah ini, dia dituntut juga untuk tetap memberikan perhatian, semangat, dan harapannya untuk keluarganya juga, selain dikampus. Tidak mudah, memang,. Untuk tetap memberikan semangat, dan selalu tampak ceria, bersemangat, dan tanpa beban saat tiba di rumah, walaupun dalam hati dan fikiran sangat banyak beban kampus yang harus dia selesaikan, saat yang lain bisa liburan ke kampung halamannya, dengan benar-benar birul walidain dan mengecas semangat, dia harus tetap tinggal dengan tetap menyelesaikan beberapa amanah teman-temannya, tapi itulah pilihannya, untuk tetap memilih jalan itu.
Rencana akademik, berulangkali harus diganti, dirubah dan disesuaikan dengan kebutuhan dakwah sangat sering dia alami, dan kembali ini pilihan yang berat, terutama ketika orangtuanya menanyakan hal tersebut.
Kenapa tidak kkn liburan antar semester 6?
insyaAllah ada amanah yang memberikan manfaat lebih banyak bu, dan kan di kalender akademik kkn juga semester8, jadi saya tidak menunda, tetapi menjalankan sesuai waktunya, dan insyaAllah saya tidak akan terlambat lulus bu.

Itulah salah satu konsekuensi dari setiap pilihannya. Menjelaskan dan memahamkkan orangtua tentang pilihan-pilihannya yang tidak biasa, ya, tapi itulah pilihannya.
Tapi, apakah anak kecil itu lantas mengabaikan akademiknya, amanah orangtuanya? TIDAK… dia faham, bahwa amanah orangtuanya pun ladang dakwah, akademikpun dapat sebagai sarana dakwah kepada obyek dakwah yang berbeda, kepada obyek dakwah yang lebih luas, diapun mengoptimalkannya. Menjaga prestasi akademik, menuntaskan amanah dakwah secara bersamaan dan seimbang, memang susah dan membutuhkan energi yang besar, waktu yang banyak dan fikiran yang berat, tapi itulah pilihannya.
Sampai saat ini, semoga anak kecil itu masih setia dengan pilihannya. Yang dapat kita doakan, semoga dia dapat istiqomah dijalan dakwah, hingga jannah.

Setiap orang besar, pasti mengalami hal-hal besar, ujian-ujian besar, beban-beban yang besar, dan membutuhkan energi dan usaha yang besar untuk mencapainya, tapi mengikhlaskan diri untuk memantaskan diri menjadi orang-orang yang luar biasa dan hebat dengan tidak memilih pilihan yang biasa.

 Sebuah lilin yang berkelip menyala pasti padam juga ketika telah habis sumbu dan teruap minyaknya
Tetapi lihat saja, dia tak pernah kehilangan apappun ketika berbagi apinya, menyalakan lilin-lilin lain

Dalam dekap ukhuwah, begitulah kenikmatan berbagi dengan umur kita yang fana, dengan kekayaan tak seberapa mungkin saja banyak sesama yang bisa ikut bercahaya

Bahkan dengarkanlah ad-Darani, lelaki yang banyak berbagi “suatu waktu” katanya, “sedang kusuapi salah seorang saudaraku dan tiba-tiba kurasakan makanan itu lezat dikerongkonganku”
Begitulah dalam dekap ukhuwah, berbagi adalah keajaiban
(Salim A. Fillah, dalam dekapan ukhuwah)


Special untuk teman-teman yang menginginkan menjadi orang besar, tetapi masih dibingungkan dengan pilihan-pilihan. Jangan berpathok pada pilihan anak kecil itu, tapi tentukan sendiri pilihanmu, yang tepat dengan kebutuhan dakwah disekitarmu.