Oleh: Linaf Listarif*(09/284628/PT/05650)
*Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Indonesia
merupakan Negara agraris, Negara tropis yang kaya akan potensi lokalnya.
Kekayaan bangsa Indonesia terdapat dalam berbagai aspek, mulai dari kekayaan
kebudayaan dan kekayaan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman potensi flora dan fauna di Indonesia juga
cukup menjanjikan, terutama untuk pemenuhan kebutuhan pangan bangsa Indonesia.
Terasa
ironis pada Negara yang dikenal dengan Negara yang agraris masih harus
mengandalkan impor kebutuhan pangan dari Negara lain. Negara yang pernah
menjadi macan Asia, kini harus rela mengemis pada pasokan impor pangan Negara
lain. Sudahkah separah ini kondisi Negara kita, Indonesia?
Indonesia dengan total penduduk 218.086.288
orang (SUPAS, 2005). Konsumsi daging nasional pada tahun 2012 adalah 1.753.540
Ton dengan pertumbuhan antara tahun 2011 sampai 2012 sebanyak 1.06% (Deptan,
2013). Konsumsi daging Indonesia masih didominasi dengan jenis – jenis ternak
tertentu, dan belum mencakup semua potensi ternak pedaging yang ada. konsumsi
daging segar masih didominasi dengan ternak-ternak kecil, seperti unggas dan
hanya beberapa ternak besar, terutama
ruminansia yang dikonsumsi. Ternak ruminansia mempunyai kemampuan untuk
mengubah bahan pakan yang murah dan tidak bersaing dengan bahan pangan manusia,
sehingga lebih murah dan mudah
didapatkan. Selain jumlah konsumsi daging yang berasal dari ternak ruminansia
masih rendah, juga masih didominasi oleh sapi dan kambing. Konsumsi daging
segar yang berasal dari ayam ras masih
sangat mendominasi dengan 3,65 kg/kapita/tahun, diikuti dengan daging segar
yang berasal ayam kampung 0,63 kg/kapita/tahun, baru diikuti oleh konsumsi
daging segar yang berasal sapi 0,42 kg/kapita/tahun, sedangkan untuk konsumsi
daging segar yang berasal dari kerbau masih 0 kg/kapita/tahun (BPS, 2013). Jumlah konsumsi masih memungkinkan untuk bertambah
dengan pertambahan jumlah penduduk, kesejahteraan penduduk, dan pendidikan
penduduk Indonesia.
Peningkatan
jumlah konsumsi daging menjadi angin segar bagi para pelaku usaha dalam bidang
peternakan ini, tapi hal ini dapat menjadi masalah baru jika ketersediaan
jumlah ternak tidak diperhatikan. Produksi daging sapi di Indonesia pada tahun
2012 sebanyak 545.620 ton dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 7,21% (Dirjen
Peternakan, 2013a), sedangkan produksi daging kerbau pada tahun 2012 sebanyak
40.253 ton dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 8,90% (Dirjen Peternakan,
2013b). Terdapatnya kekurangan pemenuhan
kebutuhan daging ini menjadi permasalah yang serius, yang bahkan akan menambah
keterpurukan bangsa ini kalau tidak ditangani secara serius. Pemerintah
biasanya mengambil jalan pintas dengan mengadakan operasi pasar dengan menggunakan
daging impor. Adanya operasi pasar yang sering dilakukan pemerintah ini bukan pilihan yang tepat, karena ini
justru malah akan mematikan harga pasar daging local, mereka yang tidak kuat
jika harus bersaing dengan daging impor yang berharga lebih murah. Keadaan
seperti ini butuh perencanaan secara serius dengan memperhatikan jumlah
populasi ternak yang ada, sehingga dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan
daging dalam negri.
Populasi sapi yang saat
ini masih menjadi komoditas utama, populasinya mencapai 15.980.697 ekor pada
tahun 2012, dan diperkirakan akan meningkat menjadi sebanyak 16.606.803 ekor
pada tahun 2013, sehingga dapat
diketahui dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,92% ( Dirjen Peternakan, 2013c).
sedangkan populasi kerbau pada tahun 2012 sebanyak 1.438.294 ekor dan
diperkirakan akan meningkat menjadi 1.483.992 ekor pada tahun 2013, dengan
rata-rata pertumbuhan sebesar 3,18% (Dirjen Peternakan, 2013d). Jumlah populasi
yang ada jika didandingkan dengan presentase karkas masing-masing ternak yang pada
sapi rata-rata 50% dan pada kerbau rata-rata 49,85% (Pusdatin, 2012), maka akan
diketahui masih terdapat kekurangan ketersediaan jumlah daging. Adanya program
swasembada daging sapi dan kerbau tahun 2010 sampai 2014 yang dicanangkan oleh
Kementrian Pertanian, merupakan langkah nyata yang dapat diberikan pemerintah
untuk mengatasi permasalahan ini.
Program
swasembada daging sapi dan kerbau, yang diharapkan dapat membantu untuk
meningkatkan jumlah populasi sapi dan kerbau sehingga ketersediaan daging
nasional dapat tercukupi, tanpa harus mengandalkan impor daging. Program yang
harapannya dapat menjadi angin segar bagi para pelaku industri peternakan di
Indonesia ini rupanya sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Program ini terkesan mengada-ada karena program ini hanya booming di awal pencanangan tapi seolah tidak ada kabarnya, bahkan
tidak terdapat eveluasi yang serius terhadap program ini. Kendala utama
pencapaian program swasembada daging sapi dan kerbau tersebut menurut Pusdatin
(2012) adalah ketersediaan serta pemutakhiran data dan informasi terkait dengan
populasi dan parameter-parameter teknis lainnya.
Popularitas
kerbau yang masih jauh dibandingkan dengan sapi menyebabkan belum banyak
masyarakat yang mengkonsumsi daging kerbau hal ini ditunjukkan dengan konsumsi
daging segar yang berasal sapi 0,42 kg/kapita/tahun, sedangkan untuk konsumsi
daging segar yang berasal dari kerbau masih 0 kg/kapita/tahun (BPS, 2013). Hal
ini menunjukkan bahwa masih banyak potensi kerbau yang belum diketahui,
sehingga daging kerbau belum menjadi pilihan utama masyarakat. Berikut beberapa
kelebihan kerbau dibandingkan dengan sapi.
Murti
(2002) serta S. Khajarern dan J.M. Khajarern (2009) menyatakan
bahwa
ternak kerbau sering dinyatakan sebagai ternak yang lebih unggul dari sapi
dalam memanfaatkan hijauan makanan yang berkualitas jelek. Keunggulan tersebut
dalam memanfaatkan hijauan makanan ternak untuk tujuan pertumbuhan dan produksi,
yang dipengaruhi oleh:
1.
Rumen pada anak kerbau dapat berfungsi
pada umur yang lebih awal
2.
Populasi mikrobia, bakteri dan protozoa
jumlahnya lebih banyak pada rumen kerbau
3.
Perubahan populasi mikrobia disebabkan
oleh perubahan musim dan proporsi komposisi pakan yang mempengaruhi rumen
kerbau
4.
Laju kecernaan pakan di dalam rumen
kerbau rendah, sehingga membuat waktu simpan dan membutuhkan lebih banyak
mikrobia
5.
Ketidakmunculan amoniak dan nitrogen
yang larut dari cairan rumen kerbau lebih sering daripada sapi, hal ini karena
kemampuan memanfaatkan proteinnya lebih efisien dari setelahnya.
Kerbau selain mempunyai
kemampuan untuk mencerna pakan lebih baik dibandingkan sapi, juga mempunyai
presentase karkas yang hampir sama dengan sapi, bahkan lebih banyak daripada
sapi PFH, seperti yang ditampilkan pada tabel 1.
Tabel 1. Presentase Karkas
Masing-Masing Ternak
(Pusdatin, 2012)
Walaupun kulit dan kepalanya lebih berat, persentase
karkas (dressing percentage) kerbau hampir sama dengan sapi, yaitu mencapai
sekitar 53% dari berat karkas. Ketebalan lemak subkutan kerbau lebih tipis
dibandingkan dengan sapi. Sulit untuk memproduksi karkas kerbau dengan
persentase lemak lebih dari 25% dari berat karkas. Proporsi otot karkas kerbau
lebih tinggi dibandingkan sapi dan proporsi tulangnya lebih rendah, rusuk
kerbau juga lebih melingkar dibandingkan sapi (National Research Council, 1981
dalam Rahmat, 2008).
Kerbau
yang merupakan potensi pribumi Indonesia, yang selama ini masih mempunyai
potensi terpendam, sehinggabelum banyak potensinya yang termanfaat
secaraoptimal. Dengan memanfaatkan potensi pribumi ini yang kemudian didukung
dengan keseriusan pemerintah dalam melaksanakan monitoring dan evaluasi
dinamika perkembangan dunia peternakan di Indonesia ini, yakinlah bahwa
Swasembada daging bukan sekedar mimpi. Bahkan kedaulatan daging dapat kita
wujudkan.
Daftar Pustaka
Badan
Pusat Statistik. 2013. Konsumsi Daging
menurut Jenis Daging dan Daging Olahan Per Kapita. Avaiable at www.datastatistik-Indonesia.com
Direktorat
Jenderal Peternakan. 2013a. Produksi Daging Sapi menurut Provinsi Avaiable at http://www.deptan.go.id
____.
2013b. Produksi Daging Kerbau menurut Provinsi Avaiable at http://www.deptan.go.id
_____.
2013c. Populasi Sapi Potong menurut Provinsi. Avaiable at http://www.deptan.go.id
_____.
2013d. Populasi Kerbau menurut Provinsi. Avaiable
at http://www.deptan.go.id
Kementrian
Pertanian, Badan Ketahanan Pangan. 2013. Konsumsi Daging, Susu, dan Telur. Avaiable at http://www.deptan.go.id/infoeksekutif/nak/ isi_dt5thn_nak.php
Murti,
T.W. 2002. Ilmu Ternak Perah. Kanisius. Yogyakarta
Pusdatin,
Departemen Pertanian. 2012. Survei Karkas dan Survey Kerbau Tahun 2012.
Newsletter Pustarin vol.3 No. 93 Bulan Oktober 2012. Avaiable at http://pusdatin.deptan.go.id
Rahmat, Novara. 2008. Penampilan Produksi Dan Kualitas Daging Kerbau Dengan
Penambahan Probiotik, Kunyit Dan Temulawak Pada Pakan Penggemukan. Skripsi
Sarjana Peternakan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor
S. Khajarern dan J.M.
Khajarern. 2009. Feeding
Swamp Buffalo For Milk Production. FAO Corporate Document Repository: Feeding
Dairy Cows in Tropics
SUPAS (Sensus Penduduk Antar Sensus). 2005. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur, Jenis Kelamin, Provinsi, dan
Kabupaten/Kota. Avaiable at
www.datastatistik-Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar