Cari Blog Ini

Selasa, 04 Februari 2014

Potensi Pribumi Untuk Indonesia Yang Mandiri


Oleh: Linaf Listarif*(09/284628/PT/05650) 
*Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

            Indonesia merupakan Negara agraris, Negara tropis yang kaya akan potensi lokalnya. Kekayaan bangsa Indonesia terdapat dalam berbagai aspek, mulai dari kekayaan kebudayaan dan kekayaan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman  potensi flora dan fauna di Indonesia juga cukup menjanjikan, terutama untuk pemenuhan kebutuhan pangan bangsa Indonesia.
            Terasa ironis pada Negara yang dikenal dengan Negara yang agraris masih harus mengandalkan impor kebutuhan pangan dari Negara lain. Negara yang pernah menjadi macan Asia, kini harus rela mengemis pada pasokan impor pangan Negara lain. Sudahkah separah ini kondisi Negara kita, Indonesia?
             Indonesia dengan total penduduk 218.086.288 orang (SUPAS, 2005). Konsumsi daging nasional pada tahun 2012 adalah 1.753.540 Ton dengan pertumbuhan antara tahun 2011 sampai 2012 sebanyak 1.06% (Deptan, 2013). Konsumsi daging Indonesia masih didominasi dengan jenis – jenis ternak tertentu, dan belum mencakup semua potensi ternak pedaging yang ada. konsumsi daging segar masih didominasi dengan ternak-ternak kecil, seperti unggas dan hanya beberapa ternak besar, terutama  ruminansia yang dikonsumsi. Ternak ruminansia mempunyai kemampuan untuk mengubah bahan pakan yang murah dan tidak bersaing dengan bahan pangan manusia, sehingga lebih murah  dan mudah didapatkan. Selain jumlah konsumsi daging yang berasal dari ternak ruminansia masih rendah, juga masih didominasi oleh sapi dan kambing. Konsumsi daging segar yang berasal dari ayam  ras masih sangat mendominasi dengan 3,65 kg/kapita/tahun, diikuti dengan daging segar yang berasal ayam kampung 0,63 kg/kapita/tahun, baru diikuti oleh konsumsi daging segar yang berasal sapi 0,42 kg/kapita/tahun, sedangkan untuk konsumsi daging segar yang berasal dari kerbau masih 0 kg/kapita/tahun (BPS, 2013). Jumlah  konsumsi masih memungkinkan untuk bertambah dengan pertambahan jumlah penduduk, kesejahteraan penduduk, dan pendidikan penduduk Indonesia.
            Peningkatan jumlah konsumsi daging menjadi angin segar bagi para pelaku usaha dalam bidang peternakan ini, tapi hal ini dapat menjadi masalah baru jika ketersediaan jumlah ternak tidak diperhatikan. Produksi daging sapi di Indonesia pada tahun 2012 sebanyak 545.620 ton dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 7,21% (Dirjen Peternakan, 2013a), sedangkan produksi daging kerbau pada tahun 2012 sebanyak 40.253 ton dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 8,90% (Dirjen Peternakan, 2013b). Terdapatnya  kekurangan pemenuhan kebutuhan daging ini menjadi permasalah yang serius, yang bahkan akan menambah keterpurukan bangsa ini kalau tidak ditangani secara serius. Pemerintah biasanya mengambil jalan pintas dengan mengadakan operasi pasar dengan menggunakan daging impor. Adanya operasi pasar yang sering dilakukan pemerintah  ini bukan pilihan yang tepat, karena ini justru malah akan mematikan harga pasar daging local, mereka yang tidak kuat jika harus bersaing dengan daging impor yang berharga lebih murah. Keadaan seperti ini butuh perencanaan secara serius dengan memperhatikan jumlah populasi ternak yang ada, sehingga dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan daging dalam negri.
Populasi sapi yang saat ini masih menjadi komoditas utama, populasinya mencapai 15.980.697 ekor pada tahun 2012, dan diperkirakan akan meningkat menjadi sebanyak 16.606.803 ekor pada tahun  2013, sehingga dapat diketahui dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,92% ( Dirjen Peternakan, 2013c). sedangkan populasi kerbau pada tahun 2012 sebanyak 1.438.294 ekor dan diperkirakan akan meningkat menjadi 1.483.992 ekor pada tahun 2013, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,18% (Dirjen Peternakan, 2013d). Jumlah populasi yang ada jika didandingkan dengan presentase karkas masing-masing ternak yang pada sapi rata-rata 50% dan pada kerbau rata-rata 49,85% (Pusdatin, 2012), maka akan diketahui masih terdapat kekurangan ketersediaan jumlah daging. Adanya program swasembada daging sapi dan kerbau tahun 2010 sampai 2014 yang dicanangkan oleh Kementrian Pertanian, merupakan langkah nyata yang dapat diberikan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini.
            Program swasembada daging sapi dan kerbau, yang diharapkan dapat membantu untuk meningkatkan jumlah populasi sapi dan kerbau sehingga ketersediaan daging nasional dapat tercukupi, tanpa harus mengandalkan impor daging. Program yang harapannya dapat menjadi angin segar bagi para pelaku industri peternakan di Indonesia ini rupanya sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang signifikan. Program ini terkesan mengada-ada karena program ini hanya booming di awal pencanangan tapi seolah tidak ada kabarnya, bahkan tidak terdapat eveluasi yang serius terhadap program ini. Kendala utama pencapaian program swasembada daging sapi dan kerbau tersebut menurut Pusdatin (2012) adalah ketersediaan serta pemutakhiran data dan informasi terkait dengan populasi dan parameter-parameter teknis lainnya.
            Popularitas kerbau yang masih jauh dibandingkan dengan sapi menyebabkan belum banyak masyarakat yang mengkonsumsi daging kerbau hal ini ditunjukkan dengan konsumsi daging segar yang berasal sapi 0,42 kg/kapita/tahun, sedangkan untuk konsumsi daging segar yang berasal dari kerbau masih 0 kg/kapita/tahun (BPS, 2013). Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak potensi kerbau yang belum diketahui, sehingga daging kerbau belum menjadi pilihan utama masyarakat. Berikut beberapa kelebihan kerbau dibandingkan dengan sapi.
            Murti (2002) serta S. Khajarern dan J.M. Khajarern (2009) menyatakan bahwa ternak kerbau sering dinyatakan sebagai ternak yang lebih unggul dari sapi dalam memanfaatkan hijauan makanan yang berkualitas jelek. Keunggulan tersebut dalam memanfaatkan hijauan makanan ternak untuk tujuan pertumbuhan dan produksi, yang dipengaruhi oleh:
1.      Rumen pada anak kerbau dapat berfungsi pada umur yang lebih awal
2.      Populasi mikrobia, bakteri dan protozoa jumlahnya lebih banyak pada rumen kerbau
3.      Perubahan populasi mikrobia disebabkan oleh perubahan musim dan proporsi komposisi pakan yang mempengaruhi rumen kerbau
4.      Laju kecernaan pakan di dalam rumen kerbau rendah, sehingga membuat waktu simpan dan membutuhkan lebih banyak mikrobia
5.      Ketidakmunculan amoniak dan nitrogen yang larut dari cairan rumen kerbau lebih sering daripada sapi, hal ini karena kemampuan memanfaatkan proteinnya lebih efisien dari setelahnya.
Kerbau selain mempunyai kemampuan untuk mencerna pakan lebih baik dibandingkan sapi, juga mempunyai presentase karkas yang hampir sama dengan sapi, bahkan lebih banyak daripada sapi PFH, seperti yang ditampilkan pada tabel 1.
Tabel 1. Presentase Karkas Masing-Masing Ternak
(Pusdatin, 2012)
Walaupun kulit dan kepalanya lebih berat, persentase karkas (dressing percentage) kerbau hampir sama dengan sapi, yaitu mencapai sekitar 53% dari berat karkas. Ketebalan lemak subkutan kerbau lebih tipis dibandingkan dengan sapi. Sulit untuk memproduksi karkas kerbau dengan persentase lemak lebih dari 25% dari berat karkas. Proporsi otot karkas kerbau lebih tinggi dibandingkan sapi dan proporsi tulangnya lebih rendah, rusuk kerbau juga lebih melingkar dibandingkan sapi (National Research Council, 1981 dalam Rahmat, 2008). 
            Kerbau yang merupakan potensi pribumi Indonesia, yang selama ini masih mempunyai potensi terpendam, sehinggabelum banyak potensinya yang termanfaat secaraoptimal. Dengan memanfaatkan potensi pribumi ini yang kemudian didukung dengan keseriusan pemerintah dalam melaksanakan monitoring dan evaluasi dinamika perkembangan dunia peternakan di Indonesia ini, yakinlah bahwa Swasembada daging bukan sekedar mimpi. Bahkan kedaulatan daging dapat kita wujudkan.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. 2013.  Konsumsi Daging menurut Jenis Daging dan Daging Olahan Per Kapita. Avaiable at www.datastatistik-Indonesia.com
Direktorat Jenderal Peternakan. 2013a. Produksi Daging Sapi menurut Provinsi Avaiable at http://www.deptan.go.id
____. 2013b. Produksi Daging Kerbau menurut Provinsi Avaiable at http://www.deptan.go.id
_____. 2013c. Populasi Sapi Potong menurut Provinsi. Avaiable at http://www.deptan.go.id
_____. 2013d. Populasi Kerbau menurut Provinsi. Avaiable at http://www.deptan.go.id
Kementrian Pertanian, Badan Ketahanan Pangan. 2013. Konsumsi Daging, Susu, dan Telur. Avaiable at http://www.deptan.go.id/infoeksekutif/nak/ isi_dt5thn_nak.php
Murti, T.W. 2002. Ilmu Ternak Perah. Kanisius. Yogyakarta
Pusdatin, Departemen Pertanian. 2012. Survei Karkas dan Survey Kerbau Tahun 2012. Newsletter Pustarin vol.3 No. 93 Bulan Oktober 2012. Avaiable at http://pusdatin.deptan.go.id
Rahmat, Novara. 2008. Penampilan Produksi Dan Kualitas Daging Kerbau Dengan Penambahan Probiotik, Kunyit Dan Temulawak Pada Pakan Penggemukan. Skripsi Sarjana Peternakan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor
S. Khajarern dan J.M. Khajarern. 2009. Feeding Swamp Buffalo For Milk Production. FAO Corporate Document Repository: Feeding Dairy Cows in Tropics
SUPAS (Sensus Penduduk Antar Sensus). 2005. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur, Jenis Kelamin, Provinsi, dan Kabupaten/Kota. Avaiable at www.datastatistik-Indonesia