Cari Blog Ini

Selasa, 27 Februari 2018

Aku Dan Jepang

Entah kenapa jepang menjadi Negara yang masih selalu ingin kukunjungi sampai saat ini, walaupun keinginan itu sudah ada sejak masih duduk di bangku SMA.

Bukan bukan hanya sebagai pengagum yang kemudian menceritakan kehebatanmu serta merendahkan selainmu, bukan bukan itu alasanku

Jepang aku ingin mengunjungimu karena aku ingin belajar banyak hal tentang kesederhanaan yang konsisten. Kesederhanaan yang membuat perubahan. Dan banyak karakter baik yang lain. Ya, hanya karakter baikmu saja yang akan kupelajari. Sekali lagi kupelajari, bukan sekedar kukagumi. Kupelajari agar bisa menjadi karakter baikku juga, syukur-syukur karakter baik setiap lingkungan keberadaanku juga.

Namun kini mimpi itu, bukan aku yang ingin kesana, namun aku akan berusaha agar jika suatu saat nanti engkau yang memanggilku datang, ya datang ke Jepang namun bukan hanya aku yang belajar, namun kita saling belajar satu sama lain.

Dan kuyakin waktu itu pasti akan tiba. Ku tunggu kesempatan itu sembari terus memantaskan diri untuk dapat memberi inspirasi.

10 muharram 1438 H
Jogja

***
Ini salah mimpi tergilaku, diatara mimpi-mimpi gila lainnya. Sudah sekian lama ditulis baru kali ini mencoba untuk membagikannya. Bukan untuk jumawa, ataupun sekedar mendapat ucapan penyemangat, namun hanya sekedar sebagai pengingat, pengingat bahwa setiap diri harus terus berusaha dan belajar. dan jangan takut bermimpi walaupun kau harus jatuh berulang kali.

頑張って

Selasa, 20 Februari 2018

Senandung Doa Al Qur'an

Lagu senandung doa al Qur'an

Curahkanlah rahmatMu ya Allah berkat Al Qur'an ini
Jadikanlah ia bagi kami panutan cahaya petunjuk dan rahmat
Ya Allah ingatkanlah kami andaikan terlupa ayat-ayat Al Qur'an
Ajarkanlah kami padanya yang tak kami tau
Karuniakanlah kami untuk membaca Al Qur'an di tengah kegelapan malam dan siang benderang
Jadikanlah Al Qur'an bagi kami sebagai pembela wahai Ilahil 'alamin
Ya Allah terimalah doa kami.....

Metode pengajaran Iqro Jilid 2

Selanjutnya kita bahas tentang jilid 2 yaa

Pokok bahasan jilid 2 adalah tentang huruf-huruf hijaiyah yang dirangkai dan bacaan mad/panjang

-- untuk halaman awal sampai 15, dua baris pertama merupakan pokok bahasan huruf-huruf tunggal dan huruf yang disambung. Anak diajak untuk memahami perbedaan huruf, bukan hanya menghafalnya. Contoh huruf ta, ba, nun, ya, tsa,, dengan mencermati banyak titik walaupun bentuknya sama-sama mirip cawan

Walaupun hurufnya disambung, anak diajarkan untuk membaca perhuruf, terutama bagi anak yang belum memahami semua huruf yang dirangkai. Agar bacaan anak tetap sesuai, tidak dipanjang-panjangkan karena masih mikir huruf selanjutnya

Kemudian untuk baris selanjutnya merupakan latihan. Kalau anak sudah lancar, tidak perlu dibaca semua, boleh dilanjutkan ke halaman selanjutnya

-- selanjutnya halaman 16 sampai akhir, sudah pengenalan bacaan mad/panjang. Sementara untuk pengajaran awal panjangnya boleh lebih 2 harokat. Yang penting anak memahami yang panjang dan yang pendek.

Membacanya dirangkai dengan huruf selanjutnya dengan memperhatikan panjang pendeknya bacaan.

Bila anak keliru membaca panjang pendeknya cukup diingatkan, misal

Eeee, dibaca panjang apa pendek yaa? 
Kenapa dibaca panjang?
Kenapa dibaca pendek?

***
selain materi, ada yang menarik yang terdapat di cover belakang iqro jilid 2 yaitu lirik lagu senandung al fatihah


Senandung al fatihah

Dengan menyebut namaMu ya Alloh yang maha pengasih penyayang
Segala puji bagiMu ya Alloh pemelihara seluruh alam raya
Engkaulah maha pengasih dan penyayang
Yang menguasai hari pembalasan
Hanyalah kepadaMu kami menyembah dan padaMu kami mohon pertolongan
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus
Jalan orang-orang yang kau beri nikmat
Bukan jalan mereka yang Kau murkai dan bukan pula  jalan mereka yang sesat
Perkenankan doa kami
Aamiin ya robal 'alamin

*
Melalui lagu ini dari kecil bahkan hingga sekarang, dengan menyanyikan lagu ini merasa lebih bisa memahami arti surat al fatihah

Sekian untuk jilid 2

Mari ciptakan generasi yang cinta Al-Qur'an

Metode Pengajaran iqro Jilid 1

Metode pembelajaran Al Qur'an memang banyak macamnya. Karena saya ngajarnya pake ini, saya mau mencoba share metode pengajaran Al Qur'an dengan iqro, yang dibagi menjadi 6 jilid. 

Kali ini kita bahas tentang jilid 1 dulu ya

Poin utama pengenalan iqro 1 ada huruf hijaiyah dengan tanda baca fathah. Dalam setiap halaman, utamanya mempunyai 3 pokok bahasan
1. Materi baru
     Biasanya dituliskan besar diatas. Dan anak difahamkan dulu materi ini dengan diulang-ulang. Jika ada anak yang kesulitan mengingat nama huruf hijaiyah, saya ingatkan dengan sesuatu yang mendekati nama huruf, misal huruf "ta" saya ingatkan dengan "kakak makan lauk apa? "Tahu", iya "ta" dsbg

2. Materi latihan
     Biasanya untuk pengulangan materi baru dan materi sebelumnya, kadang anak membutuhkan diingatkan beberapa kali,, lama-lama anak akan mengingatnya tanpa dibantu kok, kalaupun belum dipancing-pancing lagi

3. Materi rangkuman
     Digunakan untuk menyakinkan kembali bahwa anak sudah memahami materi pada halaman tersebut dan halaman-halaman sebelumnya

Oiya pak bu,, kalau untuk anak yang cerdas bisa dingajikan lebih dari satu halaman lho tiap tatap muka, namun untuk anak yang masih kesulitan satu halaman juga dapat untuk beberapa kali tatap muka

Masih lanjut iqro 1 yaa

Setelah selesai materi pengenalan huruf hijaiyah, maka untuk penguatan hafalan dilanjutkan materi huruf yang sama dg bentuk berbeda (hak 32), rangkuman yang acak(hal 33), huruf yg makhrojnya berdekatan (34)

Jika anak sudah menguasai semua, maka anak diperbolehkan EBTA atau evaluasi iqro 1 untuk melanjutkan iqro 2

untuk EBTA atau evaluasi sebaiknya ada guru khusus, sehingga standar yang digunakan untuk setiap anak dapat sama

sekian sharing saya, semoga bermanfaat yaa

Mari ciptakan generasi yang cinta Al-Qur'an

Jangan Remehkan Kata-Kata Anakmu

Di sebuah ruang sekolah dasar, seorang guru berdiri di depan kelas sedang mengajar murid-muridnya yang masih duduk di kelas tiga. Guru tersebut coba menerangkan keistimewaan dan urgensi shalat Shubuh kepada mereka. Dengan bahasa yang tertata baik dan metode penyampaian yang sempurna, sang guru berhasil menanamkan kesadaran ibadah pada diri murid-muridnya.

Bahkan, seorang anak laki-laki di antara murid-murid itu, sangat tersentuh mendengar penjelasan indah tentang pentingnya shalat Shubuh berjamaah di masjid, sehingga muncul rasa penasaran di hatinya. Terlebih karena anak kecil tersebut memang belum pernah sekalipun melakukan shalat Shubuh selama hidupnya, dan juga tidak melihat keluarganya melakukan itu.

Setelah kembali ke rumahnya, kata-kata gurunya tentang shalat Shubuh terus terngiang di telinganya.
 Ia kemudian berpikir mencari cara, bagaimana agar bisa bangun pagi untuk melaksanakan shalat Shubuh. 

Lama ia berpikir, tapi tak ada solusi yang ia temukan kecuali harus berjaga sepanjang malam. Maka ia pun melakukan itu. Susah payah ia menahan kelopak matanya di malam itu, agar tidak terpejam. Tapi dengan usahanya yang sungguh-sungguh, akhirnya ia bertemu juga dengan subuh.

Begitu suara adzan terdengar, segera ia berwudhu dan bersiap menuju masjid. Namun ketika membuka pintu, anak kecil itu terperangah. Kesulitan besar menghadang di depannya. Ia tersadar bahwa masjid ternyata cukup jauh dari rumahnya, sementara di luar sana masih terlihat gelap dan sepi. Ia tak punya keberanian yang cukup untuk menembus kesunyian subuh yang berselimut kegelapan, dengan usianya yang masih delapan tahun.

Akhirnya, ia terduduk di depan pintu dengan rasa kecewa yang dalam, dan dengan suara tangis yang tertahan, karena takut diketahui dan dimarahi orang tuanya.
Dalam balutan sedih dan kecewa, tiba-tiba anak tersebut mendengar suara langkah kaki melintas di jalan depan rumahnya. Buru-buru ia membuka pintu dan berlari pelan mendekati sumber suara. Riang bukan kepalang. Sebab ternyata, suara itu adalah langkah kaki dari kakek temannya bernama Ahmad, yang sedang berjalan menuju masjid. 
Dia pun segera mengikut di belakang kakek itu, perlahan dan tanpa suara, agar si kakeh tidak mengetahuinya dan mengadukannya kepada ayahnya.

Hari berikutnya, anak ini selalu melakukan hal yang sama, dengan cara yang sama. Setiap pagi ia bangun subuh, tanpa sepengetahuan seorang pun dari keluarganya, lalu berangkat ke masjid menunaikan shalat Shubuh, membuntut si kakek dengan langkah kaki ringan dan pelan agar tidak ketahuan.

 Akan tetapi kebersamaan abadi adalah hal yang mustahil. Beberapa bulan kemudian si kakek meninggal.
Bocah kecil itu pun tahu, dan berita kematian si kakek adalah duka yang mendalam baginya. Ia menangis. Terisak-isak. 
Sang ayah yang melihat perilaku anaknya, merasakan ada sesuatu yang aneh. 

Dia lalu bertanya, “Nak, mengapa kamu menangis seperti itu. Kakek si Ahmad kan bukan anak kecil seusiamu yang kamu bisa bermain dengannya. 
Dia juga bukan kerabat kita, sehingga kamu tidak perlu merasa kehilangan dia.”

Anak itu lalu menatap ayahnya, dengan air mata yang terus mengalir dan wajah yang tampak begitu sedih, seraya berkata, “Andai saja yang mati itu adalah ayah, dan bukan kakek itu!”
Mendengar ucapan anaknya, si ayah seperti tersambar petir. Ia kaget luar biasa. “Kenapa anak sekecil ini bisa berkata-kata seperti itu? 
Lalu kenapa ia mencintai si kakek sedemikian dalam?” pikirnya dalam hati. 
Anak itu lalu berkata, “Aku tidak merasa kehilangan karena dia teman mainku atau karena dia kerabatku, seperti yang ayah katakan.”
“Lalu kenapa?” tanya ayahnya penasaran.
“Karena shalat. Karena shalat,” tegas si anak. 
Dengan suara serak dan berat ia mengajukan tanya, “Kenapa ayah tidak shalat Shubuh? Kenapa ayah tidak seperti kakek itu dan seperti orang-orang yang aku lihat itu?”
“Di mana kamu melihat mereka?” desak ayahnya. “Di masjid,” jawab anak itu singkat. “Bagaimana caranya kamu bisa melihat mereka?” tanya ayahnya lagi. 

Si anak pun lalu menceritakan pengalamannya selama ini, yang setiap subuh selalu m

embuntuti si kakek. Hampir saja air mata si ayah tumpah mendengarnya.

Seketika ia peluk anaknya erat-erat. 
Cerita anak itu telah menjadi pelajaran sangat berharga bagi si ayah, dan sejak saat itu, ia tak pernah lagi meninggalkan shalat lima waktu berjamaah di masjid.

Kisah ini adalah potret nyata seorang anak kecil yang secara perilaku melampaui usianya.

Ya, dengan sebuah sentuhan kesadaran di jiwanya, dia telah melakukan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupannya, dan dalam kehidupan keluarganya.

Dia telah berhasil “mendakwahi” orang tuanya. 

Dia telah sukses mengetuk kesadaran ayahnya untuk bangun pagi dan melaksanakan shalat. 

Dia telah menjadi dai bagi segenap keluarganya, dengan caranya sendiri, di mana tugas itu seharusnya dilakukan oleh orang-orang dewasa dan terpelajar.

Karena itu, DR Sa’ad Riyadh yang menceritakan kisah ini dalam bukunya Abaa’ wa Abnaa’, memberi catatan penting: Jangan kau remehkan kata-kata dari anakmu, sebab terkadang dari situlah awal perubahan dalam hidupmu.

(Dikutip dari fb tarbawi)