Cari Blog Ini

Jumat, 30 Desember 2011

Said bin Amir: Mujahid yang Tak Mengejar Ketenaran


Siapa yang kenal nama ini? Dan siapa pula di antara kita yang pernah mendengarnya sebelum ini? Berat dugaan bahwa beberapa di antara kita belum pernah mendengar namanya atau bahkan tidak mengenal sosok sahabat nabi yang satu ini.. berikut ini kisahnya..

Ia adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Walaupun  namanya tidak semasyhur nama-nama sahabat nabi yang terkenal. Ia adalah seorang yang takwa dan tak hendak menonjolkan diri. Ia tak pernah absen dalam setiap perjuangan dan jihad yang dihadiri Rasulullah SAW.

Said masuk Islam sesaat sebelum pembebasan Khaibar, setelah memeluk Islam, ia terkenal dengan ketaatan dan kepatuhan, zuhud dan keshalehan serta keluhuran budi pekertinya. Ketika pandangan kita tertuju kepada Said dalam sekumpulan orang banyak, maka tidak satupun keistimewaan yang akan memikat dan mengundang perhatian kita. Yang Nampak darinya hanyalah tubuh berdebu dan berambut kusut masai. Maka kita tidak akan mengetahui siapa ia sebenarnya, karena kebesaran tokoh ini jauh tersembunyi dibalik kesederhanaannya dan kebersahajaannya.
...kebesaran tokoh ini jauh tersembunyi dibalik kesederhanaannya dan kebersahajaannya...
Suatu ketika ketia Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab memberhentikan Muawiyah dari jabatannya sebagai kepala daerah di Syria, ia menoleh ke kanan dan kekiri mencari seseorang yang akan menjadi penggantinya. Dan sistem yang digunakan Umar untuk memilih pegawai dan pembantunya merupakan sistem yang mengandung segala kewaspadaan, ketelitian dan pemikiran yang matang. Karena ia berkeyakinan bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh setiap penguasa ditempat yang jauh sekalipun, maka yang akan ditanya oleh Allah SWT ialah dua orang : pertama, Umar, dan kedua baru penguasa yang melakukan kesalahan itu.

Oleh sebab itu, syarat-syarat yang dipergunakannya untuk menilai orang  dan memilih para pejabat pemerintahan amatlah berat dan ketat serta berdasarkan pertimbangan yang matang dan sempurna. Dan Syria ketika itu merupakan  wilayah yang besar dan modern. Sementara kehidupan di sana (sebelum datangnya Islam) selalu mengikuti peradaban yang silih berganti. Di samping itu Syria juga merupakan pusat perdagangan yang penting dan juga tempat yang cocok untuk bersenang-senang, karena ia merupakan suatu negeri yang penuh godaan. Maka menurut pendapat Umar, tidak ada yang cocok untuk negeri itu kecuali seorang suci yang tidak dapat diperdayakan setan manapun, seorang zahid yang gemar beribadah, serta tunduk dan patuh serta berlindung diri kepada Allah.

Tiba-tiba Umar berseru,” saya telah menemukannya! Bawa ke sini Said bin “amir” tak lama kemudian, datanglah Said menemui Amirul Mu’minin yang menawarkan jabatan sebagai walikota Hamsh. Tetapi Said menyatakan keberatannya, ia berkata: “janganlah saya dihdapkan kepada fitnah, wahai Amirul Mu’minin”. Dengan nada keras Umar menjawab: “ Tidak, demi Allah saya tidak akan melepaskan Anda! Apakah kalian hendak membebankan amanah dan khilafah di atas pundakku, lalu kalian meninggalkan aku?”
... Seandainya seorang seperti Said bin Amir menolak untuk memikul tanggung jawab hukum, maka siapa lagi yang akan membantu Umar...
Dalam sekejap saja, Said dapat diyakinkan. Dan kata-kata Umar memang layak untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Sungguh suatu hal yang tidak adil namanya bila mereka mengalungkan amanah dan jabatan sebagai khalifah ke lehernya, lalu mereka meninggalkannya sebatang kara. Seandainya seorang seperti Said bin Amir menolak untuk memikul tanggung jawab hukum, maka siapa lagi yang akan membantu Umar dalam memikul tanggung jawab yang amat berat  itu?

Demikianlah, Said akhirnya berangkat ke Hamsh, dan ikut pula istrinya bersamanya. Sebetulnya mereka berdua adalah pengantin baru. Semenjak kecil , istrinya adalah seorang wanita yang sangat cantik lagi berseri-seri. Umar pun membekali mereka secukupnya.

Ketika kedudukan mereka di Hamsh telah mapan, sang istri bermaksud menggunakan haknya sebagai istri untuk memanfaatkan harta yang telah diberikan Umar sebagai bekal mereka. Diusulkannya kepada sang suami untuk membeli pakaian yang layak serta perlengkapan rumah tangga, lalu menyimpan sisanya. Jawab Said kepada istrinya “Maukah kamu Aku tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita berada di suatu negeri yang amat pesat perdagangannya serta laris barang jualannya. Maka lebih baik kita serahkan harta ini kepada seseorang yang akan mengambilnya sebagai modal dan akan mengembangkannya.” “Bagaimana jika perdagangannya rugi?” tanya istrinya. “Saya akan mempersiapkan jaminannya” Jjawab Said. “Baiklah kalau begitu” Kata istrinya.

Kemudian  Said pergi keluar, lalu membeli sebagian keperluan hidup dari jenis yang amat bersahaja dan sisanya yang masih banyak itu, ia bagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Hari-hari pun berlalu, dari waktu ke waktu istri Said menanyakan kepadanya tentang perdagangan mereka dan kapan keuntungannya akan dibagikan. Semua itu dijawab oleh Said bahwa perdagangan mereka berjalan dengan lancar, sedangkan keuntungannya bertambah banyak dan kian meningkat.

Pada suatu hari, istrinya mengajukan lagi pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui duduk perkara yang sesungguhnya. Said pun tersenyum dan tertawa sehingga menimbulkan keraguan dan kecurigaan sang istri. Ia mendesak suaminya agar berterus terang. Lalu Said pun menyampaikan bahwa harta tersebut telah disedekakannya dari semula.
Wanita itu pun menangis dan menyesali karena harta itu tak dapat dimanfaatkan sedikitpun, baik untuk membeli baju juga keperluan hidupnya. Said memandangi istrinya, sementara air mata penyesalan membasahi pipinya. Dan sebelum pandangan yang penuh kesedihan itu mempengaruhi dirinya, Said membayangkan kawan-kawannya yang telah mendahuluinya di surga, lalu ia berkata: saya mempunyai kawan-kawan yang telah lebih dulu  menemui Allah.. dan saya tidak ingin menyimpang dari jalan mereka walaupun ditebus dengan dunia dan seisinya!”

Dan karena ia takut akan tergoda oleh kecantikan istrinya, ia berkata : “Dan seolah-olah kata-kata itu dihadapkan kepada diri mereka berdua,” bukankah kamu tahu bahwa di dalam surga itu terdapat gadis-gadis yang bermata jeli, hingga andai seorang saja mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang benderanglah seluruhnya, dan tentulah cahayanya akan mengalahkan matahari dan bulan.

Maka korbankanlah dirimu untuk mendapatkan mereka, tentu lebih wajar dan lebih utama daripada mengorbankan mereka demi dirimu!” kemudian diakhirinya ucapan itu dengan senyuman, kemudian istrinya terdiam dan ia ingin mencontoh sifat zuhud dan ketakwaan suaminya. Pada masa itu Hamsh digambarkan sebagai kota Kufah kedua karena dikota Kufah banyak terjadi pembangkangan penduduk terhadap sang penguasa, tetapi terhadap hamba yang shaleh seperti Said, hati mereka dibukakan oleh Allah, hingga mereka cinta dan taat kepadanya.
... dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang paling cemerlang, Said bin Amir pun menemui ajalnya...
Pada tahun 20 hijriah, dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang paling cemerlang, Said bin Amir pun menemui ajalnya, sungguh telah sangat tak terelakkan rindunya untuk dapat menjumpai Rasulullah SAW, tidak ada beban dunia atau harta benda yang memberati punggungnya, tak ada yang dibawanya kecuali zuhud, keshalehan, ketakwaan dan keluhuran budi pekertinya.

Keistimewaan tersebut dimilikinya untuk mengguncang dunia dan dijadikan pegangan yang kokoh sehingga tak tergoyahkan oleh tipu daya dunia. [waroah/voa-islam.com]

Sumber: Perihidup 60 Shahabat Rasulullah

Senin, 28 November 2011

Catatan Afifah Afra: Kusambut Amanah Itu Ya Allah...

Catatan Afifah Afra: Kusambut Amanah Itu Ya Allah...: Catatan Menjelang Kelahiran Anak Ketiga Ahad, 19 September 2010, Pagi-pagi, usai melakukan aktivitas rutin—antara lain jalan pagi, menyap...

Senin, 07 November 2011

Freedom

Gathered here with my family
My neighbours and my friends
Standing firm together against oppression holding hands
It doesn’t matter where you’re from
Or if you’re young, old, WOMAN or man
We’re here for the same reason; we want to take back our land
Oh God, thank you
For giving us the strength to hold on
And now we’re here together
Calling you for freedom, freedom
We know you can hear our call, ooh O
We’re calling for freedom, fighting for freedom
We know you won’t let us fall, ooh O
We know you’re here with us
No more being prisoners in our homes
No more being afraid to talk
Our dream is just to be free, just to be free
Now when we’ve TAKEN our first step
Towards a life of complete freedom
We can see our dream getting closer and closer, we’re almost there
Oh God, thank you
For giving us the strength to hold on
And now we’re here together
Calling you for freedom, freedom
We know you can hear our call, ooh O
We’re calling for freedom, fighting for freedom
We know you won’t let us fall, ooh O


I can feel the pride in the air
And it makes me strong to see everyone
Standing together holding hands in unity
Shouting out LOUDLY demanding their right for freedom
This is it and we’re not backing OUT
Oh God we know you hear our call
And we’re calling you for freedom, freedom
We know you can hear our call ooh O
We’re calling for freedom, calling for freedom
We know you won’t let us fall ooh O
We know you’re here with us..

Senin, 31 Oktober 2011

Ibuku slalu memberiku

Dan Kami telah perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, dankepadakulah kembalimu.” (Luqman: 14)
Ibu adalah satu kata yang paling berkesan dalam hidup manusia. “Mama”, “Bunda”, “Enyak”, “Emak”, “Ummi” atau apa pun sebutannya, maksudnya tetap merujuk kepada seorang wanita yang melahirkan Kita puluhan tahun yang lalu. Adalah fitrah jika seorang manusia menghormati dan menghormati orang yang berjasa pada dirinya, apalagi mencintai dan menyayangi ibunya karena ibu telah begitu banyak berkorban, memberi dan memberi kepada anak-anaknya… Karena itu, tulisan ini didedikasikan agar setiap pembaca menghayati pengorbanan ibunya dan dapat bersyukur kepada Allah dan kemudian kepada ibu bapaknya. Karena setiap manusia di muka Bumi pasti terlahir dari seorang ibu. Setiap kita pasti pernah mengalami kehidupan dalam sebuah alam yang terhormat dalam perut seorang perempuan selama lebih kurang 9 bulan 10 hari. Alam kandungan merupakan  tempat persinggahan yang kokoh sebelum lahir ke muka Bumi… Dia bernama “rahim”, nama yang sama dengan salah satu nama Allah yaitu “Ar-Rahim” (Yang Maha Penyayang).
Kenanglah Pemberian Ibu
Ibu teramat sangat besar jasanya bagi hidup seseorang. Tidak dapat dibandingkan dengan manusia mana  pun. Sungguh keliru jika orang menganggap ada orang lain yang lebih berjasa bagi dirinya selain Ibunya sendiri. Sebelum orang lain melihat Anda lahir sebagai penduduk Dunia, ibulah yang pertama kali merasakan keberadaan Anda dalam tubuhnya. Dialah yang mensuplai Anda makanan, merawat dan memelihara Anda selama dalam kandungan… Saat itu, dalam tubuh ibumu terdapat dua jiwa yang salahsatunya harus dipersiapkan untuk menjadi seorang manusia…  Dalam alam rahim inilah seluruh perasaan cinta dan kasih ibu dicurahkan  terhadap anaknya, dengan perkenan dan idzin Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…
Mengandung seorang bayi bukanlah menggendong barang yang bisa istirahat di saat yang diinginkan. Sang jabang bayi melekat dengan tubuhnya dan menjadi parasit yang menggerogoti kekuatan Sang Ibu. Dari waktu ke waktu bertambah berat dan menyulitkan.. Sungguh jarang ibu mengeluh, meskipun ada sedikit keluhannya namun dia tetap dalam keadaan bangga dan penerimaan yang tulus terhadap keberadaan Anda di dalam tubuhnya…  Untuk mengapresiasi para ibu, peristiwa ini digambarkan Allah di dalam Al qur-an,
Dan Kami telah perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, dankepadakulah kembalimu. (Luqman: 14)
Anda tidak akan dapat membayangkan betapa sakitnya ketika seorang ibu ketika melahirkan seorang bayi..  Apalagi membayangkan ibu Anda sendiri sewaktu melahirkan Anda puluhan tahun yang lalu… Dia bergulat dengan maut, dia mempertaruhkan selembar nyawanya untuk kehadiran Anda sebagai penduduk Dunia… Tidak jarang Ibunda  mengalah, dia harus wafat meninggalkan anaknya yang lahir sebagai bayi.. Kebahagiaan seorang ibu terjadi ketika anak tersebut lahir dengan selamat…, mendengar tangis bayinya untuk pertama kali. Mungkin dia bukan orang pertama yang melihat wujudnya dengan kedua biji mata, namun dapat dipastikan dialah yang paling bahagia saat itu… Dengan wajah penuh peluh, perasaan harap dan cemas dalam keadaan tubuh yang teramat letih dan lelah seolah-olah dia bertanya, “Bagaimana dia suster..?”… Itulah luapan cinta yang tak terhingga..
Tidak sampai disitu saja, Ibunda telah menyediakan seluruh perhatian dan kasih sayangnya kepada bayi yang baru lahir tersebut. dia menggendongnya, menyusukannya, merawat dan memeliharanya, memberi makanan dan membersihkannya… Di malam hari ibu harus bangun karena anaknya bangun dan minta disusui… Tidak ada waktu tersisa selain untuk merawat dan menjaga sang bayi… Menyusukan ini adalah berbagi makanan dengan anak yang disusukannya.. Menurut Ilmu Kedokteran susu ibu tidak tergantikan nilai kandungan gizinya dengan susu mana pun di muka bumi.  ASI (Air susu ibu) yang diberikan secara cukup kepada seorang anak akan menentukan kesehatan dan ketahanan fisik anak tersebut di masa yang akan datang.
Bagaimana dengan ayah (bapak)? Pada saat anak dalam kandungan; sudah bagus jika ayah mau memberi kasih sayang kepada isteri yang mengandung anaknya.. Pada saat persalinan, sang Ayah biasanya hanya diam saja menunggu di luar tempat persalinan dengan harapan agar kerja keras isterinya berhasil. Alangkah bagusnya jika dia hadir di samping pembaringan isterinya, memberi semangat dan dorongan kepada calon ibu tersebut… Realitanya, kebanyakan kaum Bapak merasa tidak kuat menyaksikan persalinan atau karena alasan lain sehingga tidak di tempat… Pada waktu Anda bayi ayah sedikit menggendong anaknya dibandingkan ibu.. Apalagi untuk membersihkan kotoran atau kencing sang bayi…
Bukan untuk membanding-bandingkan, Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi wa Sallam ketika ditanya tentang “Siapakah orang yang paling pantas untuk mendapatkan pelayanan terbaikku” menjawab dengan “Ibumu!!!”. Pertanyaan ini diulang sampai tiga kali dan masih dijawab dengan “ibumu”. Setelah keempat kali barulah Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Kemudian ayahmu”.  Ini menggambarkan kedudukan ibu yang begitu tinggi. Hadits yang membicarakan keutamaan ayah dan ibu cukup banyak. Seperti, “Ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi shukhtil walidain” (Ridho Allah terletak pada ridho kedua orangtua kemurkaan Allah terletak pada kamarahan kedua orangtua)
Ayah adalah orang bertanggung jawab kepada keluarga, perannya juga sangat penting dalam hidup Kita. Kerjasama yang baik kedua orangtua dalam melahirkan memelihara, dan mendidik anak ; itulah yang membuat Kita hadir di muka bumi sampai saat ini . Allah Subhanahu wa Ta’ala menekankan peranan ayah ibu dalam berbagai ayatnya. Kemudian mewajibkan kaum muslimin untuk senantiasa berbuat baik kepada keduanya (birrul walidain).
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika
salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut
dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap
mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku,
kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku
waktu kecil.” (Al Isra: 22)
Mampukah Kita Membalas?
Lantas dengan apakah Kita membalas semua kebaikan orangtua? Dapatkah Kita memberikan kasih sayang yang serupa kepada keduanya sebagaimana mereka menyayangi Kita diwaktu Kita kecil?
Hanya orang-orang berpekerti luhur dan mulia akan bersikap baik kepada kedua orang tua. Mereka tahu kedudukan serta kemuliaan ayah bundanya… dia dapat merasakan tatkala mencium tangan ibu atau bapak-nya seolah-olah dia bersujud dengan Ruh dan perasaan-nya laksana bersujud kepada Allah, dia mendapatkan jati diri yang sebenarnya sebagai suatu rahasia dalam kehidupan. Semua itu menjadi bukti penghargaan dan  penghormatan kepada kedua oang tua. Dalam ajaran Islam, saking pentingnya berbuat baik kepada kedua orangtua seorang anak wajib mencintai, menghormati dan memelihara kedua orangtuanya… walaupun keduanya musyrik atau berlainan agama. Keduanya berhak untuk diberi kebaikan dan pemeliharaan bukan mentaati dan mengikuti kemusyrikan atau   agamanya. Allah Azza wa jalla berfirman,
Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang
tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang
tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.
Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah
kamu kerjakan. (Al Ankabuut: )
Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Buraidah dari bapaknya bahwa ada seorang lelaki yang sedang thawaf sambil menggendong ibunya, lalu dia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ” Apakah dengan ini saya  sudah menunaikan haknya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Belum! Walaupun secuil”. Di zaman sekarang sering Kita temukan anak-anak yang memperlakukan Ibu atau ayahnya bagaikan pembantu atau pelayan. Kata-kata dan nasihat orangtuanya tidak didengar dan dipelajari secara seksama. Sering membentak dan menyakiti hati salah satu atau keduanya…
Bagaimanakah cara sebaiknya agar seseorang berbakti kepada orangtua ?? “Kasih ibu sepanjang hayat kasih anak sepanjang jalan”, itulah ungkapan yang sering muncul dalam mengungkapkan hubungan seseorang dengan ibunya. Sekarang ini, pernahkah Anda renungkan bagaimana sebenarnya sikap Anda terhadap ibu Anda. Coba renungkan sejenak apa saja jasa yang Anda berikan kepadanya…
Mungkin di antara Anda ada yang mengatakan, “Aku memberinya tempat tinggal”, “Aku membiayainya sewaktu dirawat di rumah sakit”.. Sebenarnya bukan itu yang diharapkan orangtua dari Anda… Yang diinginkannya adalah “kasih sayang”.  Setidaknya ada lima kriteria yang menunjukkan bentuk bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya:
Pertama, Jangan ada penilaian yang tidak mengenakkan keduanya dikarenakan terlihat atau tercium dari kedua orang tua kita sesuatu yang tidak enak. Akan tetapi memilih untuk tetap bersabar dan beharap pahala kepada Allah dengan hal tersebut.
Kedua,  jangan menyusahkan kedua orang tua dengan ucapan yang menyakitkan.
Ketiga, berbicara dengan suara dan kata-kata yang lemah lembut kepada keduanya diiringi dengan sikap sopan santun yang menunjukkan penghormatan kepada keduanya.
Keempat, berdoa memohon kepada Allah agar Allah menyayangi keduanya sebagai balasan kasih sayang keduanya terhadap kita, “robigh lii wa li-waa lidayya war ham humaa kamaa robbayaanii soghiroo” (ya Allah ampunilah aku dan kedua orangtuaku  dan ampunilah sayangilah keduanya sebagaiman ameeka menyayangi daku sewaktu kecil)
Kelima, selalu bersikap tawadhu’ dan merendahkan diri kepada keduanya,
dengan menaati keduanya selama tidak memerintahkan kemaksiatan kepada Allah serta sangat berkeinginan untuk memberikan apa yang diminta oleh keduanya sebagai wujud kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya.  Agar menjadi  anak berbakti perhatikan syarat-syarat berikut,
•  Lebih mengutamakan ridha dan kesenangan kedua orang tua daripada ridha diri sendiri, isteri, anak, dan seluruh manusia.
•  Selalu menaati orang tua dalam semua apa yang mereka perintahkan dan mereka larang baik sesuai dengan keinginan anak ataupun tidak sesuai dengan keinginan anak.
•  Berupaya memberikan untuk kedua orang tua kita segala sesuatu yang kita ketahui bahwa hal tersebut disukai oleh keduanya sebelum keduanya meminta hal itu.
sumber: www.dakwatuna.com

Kiat Mendidik Anak Menjadi Sholeh / Sholehah


Untuk mendidik seorang anak menjadi sholih/sholihah hendaknya dilakukan sejak dini. Saat memorinya belum terkontaminasi dengan pengaruh-pengaruh negatif. Anda dapat mulai membiasakan beberapa hal berikut kepada diri dan anak anda sejak dini :

Bangunkan shubuh sejak balita
Bangun pada waktu shubuh adalah sebuah aktivitas yang sangat berat bagi orang-orang yang tidak biasa untuk melakukannya. Untuk itu, membiasakan membangunkan anak pada waktu shubuh sejak balita adalah langkah terbaik untuk menjadikannya sebagai sebagai sebuah kebiasaan.

Berikan lingkungan pergaulan dan pendidikan yang islami
Lingkungan dan pergaulan adalah salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Maka, dalam hal ini anda dapat memulainya dengan mengirimkan anak anda ke TPA (Taman Pendidikan Al Quran) atau mengikuti kursus-kursus islam di Masjid dan sebagainya.

Jangan egois!
Orang tua adalah teladan yang pertama bagi anaknya, maka jadilah teladan yang terbaik bagi anak anda. Jangan bersikap egois. Jangan hanya memerintahkan anak anda untuk mengaji atau pergi sholat berjamaah,sedangkan anda tidak melakukannya. Karena hal tersebut akan menimbulkan pembangkangan kepada anak, minimal secara kejiwaan.

Safari Masjid
Bawalah anak anda untuk melakukan safari masjid minimal sepekan sekali. Hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta terhadap masjid dan sholat berjamaah dihati anak.

Perkenalkan batasan aurat sejak dini
Umumnya, cara berpakaian kita saat ini adalah kebiasaan yang sudah kita bawa sejak kecil. Seorang anak dibiasakan menggunakan pakaian yang ketat, dibiasakan berpakaian tanpa jilbab, maka hal tersebut akan terbawa hingga remaja dan dewasa. Kebiasaan ini akan sangat sulit sekali untuk merubahnya. Dengan alasan gerah, panas, nggak nyaman, ribet, nggak gaul, nggak PD, dan dengan seribu alasan lainnya mereka akan menolak penggunaan pakaian yang menutup aurat.
Jika kita memperkenalkan batasan aurat kepada anak kita dan membiasakannya untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat sejak dini, insya Allah keadaannya akan berbalik. Ia akan merasa berdosa, malu, nggak nyaman, bersalah, dan menolak untuk beralih ke pakaian-pakaian yang tidak menurut aurat. Ia akan berpikir seribu kali, bahkan tidak terpikir sekalipun dan sedikitpun untuk melakukannya.

Selalu membawa perlengkapan sholat
Ajarkan kepada anak untuk selalu membawa perlengkapan sholat kemanapun mereka pergi sekiranya akan melewati masuknya waktu sholat.

Meminimalisir mendengarkan musik-musik non islami
Minimalisir mendengarkan lagu-lagu non islami seperti lagu-lagu picisan, rock, barat, dan lain-lain. Maksimalkan membaca AL Quran berjamaah, mendengarkan kaset mu'rotal, mendengarkan kaset ceramah atau nasyid islam.

Buatlah jadwal nonton TV
Hendaknya, orang tua tidak membiasakan menonton acara TV bersama anak yang tidak mengandung unsur pendidikan kepada anak, misalnya sinetron, film horor, film-film cengeng (romantika), dan lain-lain.

Ajarkan nilai-nilai Islam secara langsung
Ajarkan nilai-nilai Islam yang anda kuasai secara langsung kepada anak anda sejak dini. Sampaikan dengan bahasa-bahasa yang menarik, misalnya melalui sebuah cerita.

Bacakan hadits Rasulullah saw dan ayat Al Quran
Bacakan hadits Rasulullah saw dan ayat Al Quran, sesuai dengan kadar kemampuan si anak. Hubungkan hadits dan ayat Al Quran ketika kita memberikan nasihat atau teguran mengenai perilakunya sehari-hari.

Jadilah sahabat setia baginya
Perkecil menunjukkan sikap menggurui kepada anak, bersikaplah sebagai seorang sahabat dekatnya. Jadilah tempat curhat yang nyaman, sehingga permasalahan anak tidak akan disampaikan kepada orang yang salah, yang akhirnya akan memberikan solusi yang salah pula.

Ciptakan nuansa kehangatan
Nuansa hangat dan harmonis dalam keluarga akan memberikan kenyamanan bagi seluruh anggotanya, termasuk anak. Hal ini akan memperkecil masuknya pengaruh buruk dari luar kepada anak. Ia tidak akan mencari tempat diluar sana yang ia anggap lebih nyaman dari pada di rumahnya sendiri.

Sampaikan dengan dengan bijak, sabar, dan tanpa bosan
Ingat! Yang sedang anda bentuk adalah makhluk bernyawa, bukan makhluk yang tidak bernyawa. Maka sampaikan semuanya dengan penuh kesabaran, kebijaksanaan, dan jangan pernah merasa bosan untuk mengulangnya. Jangan menggunakan kekerasan, dan hindari emosi yang akan membuat anak sakit hati.
Demikian beberapa tips untuk membentuk anak yang taat (sholih/sholihah), semoga tips di atas dapat memberikan barokah bagi kita semua. Amin