UGM merupakan
kampus yang majemuk, kompleks, baik dari karakter mahasiswanya, corak
budayanya, pemikirannya, maupun gerakan dan organisasi yang berkembang di
dalamnya. Keadaan ini dibutuhkan berbagai perlakuan yang berbeda-beda
berdasarkan karakteristiknya dalam mewujudkan terimplemetasinya nilai-nilai
islam dalam lingkungan kampus UGM ini. Perbedaan perlakuan ini juga membutuhkan
berbagai tahapan yang berbeda dalam menyikapi kondisi ini.
Da’wah kampus
bukan hanya membuat kegiatan keislaman dengan berpusat di masjid saja, apapun
kegiatan kita dapat digunakan untuk sarana da’wah kampus. Dunia kampus yang
dipenuhi dengan berbagai karakter masyarakat di dalamnya. Masyarakat kampus
yang terutama dinamisnya sikap mahasiswa menuntut adanya suatu wadah untuk
menjaring sikap kritis dan progresif. Media penyaluran inspirasi dan kontribusi
nyata mahasiswa dalam perbaikan dan control social masyarakat. Kampus yang di
dalamnya terdiri dari berabagai agama dan keyakinan membuat sangat
dibutuhkannya sarana untuk senantiasa sebagai media penguatan aqidah dan untuk
optimalisasi fungsi pelayanan dan syiar keislaman kepada seluruh masyarakat
kampus. Dunia kampus yang merupakan tempatnya para intelektual muda untuk
senantiasa memberikan solusi untuk problematika masyarakat. Dan fungsi
mahasiswa yang berperan dalam mewujudkan ketahanan Negara dan pengentasan
kemiskinan.
Begitu
banyaknya peran kampus yang dapat kita optimalkan dalam proses da’wah kampus,
semakin menuntut kreatifitas kita dalam membuat inovasi dan membaca celah
peluang ekspansi da’wah kampus.
Sebagai
seorang mahasiswa, dan penggerak da’wah segala kegiatan dan tingkah laku kita
pasti tak akan lepas dari segala bentuk pemantauan dan perhatian masyarakat
kampus. Keaktifan kita di kelas dan
keseriusan kita dalam berbagai kegiatan akademik dapat digunakan sebagai
salah satu sarana syiar kita, dan membuktikan bahwa kita bukan orang yang
main-main dalam berjuang dalam da’wah, dengan bukti nyata pada tanggung jawab
kita terhadap amanah akademik kita.
Sikap
disiplin dan jujur, merupakan sikap penting yang juga harus dimiliki seorang
penggerak da’wah. Berusaha jujur akan kemampuan dan keterbatasan diri, dengan tidak mencontek dan titip tanda tangan,
merupakan bukti nyata.
Sebagai
seorang akademisi dan penggerak da’wah yang senantiasa berinovasi, senantiasa
membaca peluang-peluang untuk menambah kebermanfaatan diri dengan menambah
ekspansi da’wah kita, dengan berusaha membumikan kalimat Allah dimana pun
berada, tak luput seperti kantin, laboratorium, perpustakaan, bahkan tempat
nongkrong.
Dan
yang terpenting dalam segala hal yang dilakukan untuk da’wah dimanapun berada,
tak terkecuali da’wah kampus yaitu menjaga KEBAROKAHAN
da’wah, baik berasal dari cara, maupn prosesnya. Tetap menjaga batasan-batasan
syariah, merupakan hal semakin pudar dari para penggerak da’wah itu sendiri.
Perkembangan
zaman yang semakin cepat, menuntut para penggerak da’wah pun dapat melakukan
pengembangan dalam proses da’wah, dan hal ini tak kan luput dengan tuntutan
untuk senantiasa penambahan dan penguatan kapasitas penggerak da’wah tersebut.
Tradisi belajar dan mengajarkan yang harus senantiasa dijaga dan dioptimalkan
untuk mencari solusi untuk permasalahan umat.
Tarbiyah
(pendidikan) adalah suatu proses yang menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap
hingga mencapai batas kesempurnaannya. Berdasarkan makna tumbuh dan berkembang
tersebut, Abdurrahman Al-Bani mengambil empat unsure penting dalam pendidikan
1. Menjaga
dan memelihara fitrah objek didik
2. Mengembangkan
bakat dan potensi objek didik sesuai dengan kekhasan masing-masing
3. Mengarahkan
potensi dan bakat tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan, dan
4. Dilakukan
secara bertahap
Proses
pendidikan yang membutuhkan waktu tidak cepat, membutuhkan energi yang tidak
sedikit dan membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Kita perlu refleksi
sejenak, tentang sudahkah kita tarbiyah?
1. Kita
sudah tarbiyah jika kita terbuka terhadap perubahan
2. Kita
sudah tarbiyah jika mampu bersikap tegas dan menghindarkan diri dari sikap
agresif
3. Kita
sudah tarbiyah jika kita menjadi pribadi yang proaktif
4. Kita
sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang memiliki sikap mawas diri
5. Kita
sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang mandiri
6. Kita
sudah tarbiyah jika kita adalah sosok yang berperasaan, tetapi tidak emosional
7. Kita
sudah tarbiyah jika kita sanggup belajar dari kesalahan
8. Kita
sudah tarbiyah jika hidup di masa sekarang, bersikap realistis, dan berpikir
relatif
Suatu hal yang
berperan penting dalam banyak hal adalah orientasi, termasuk juga dalam
tarbiyah. Orientasi menentukan seberapa ‘nilai’ diri kita hari ini dan bahkan
menentukan seberapa jauh kita akan beranjak dari titik dimana kita berada hari
ini. Bagaimana dan kemana seorang kader akan bergerak dengan tarbiyah,
sebagiannya ditentukan oleh orientasinya terhadap tarbiyah pada hari ini.
Orientasi kita
hari ini berpengaruh pada isi atau value kita hari ini dan Orientasi kita hari
ini berpengaruh pada masa depan kita.
Sebuah kegagalan
jika orientasi kita didominasi oleh sebagian dan mengabaikan sebagian yang
lain. Karena, jika dominasi dipegang oleh pihak yang agak aktif maka kelompok
agak aktif akan mendefinisikan pihak-pihak yang cukup aktif sebagai tidak aktif
dan mendefinisikan kelompok aktif sebagai terlalu aktif. Demikian pula akan
terjadi hal yang sama jika dominasi terjadi oleh pihak yang lain.
Orientasi menuntut keterlibatan segenap kita
pada pembentukan orientasi itu sendiri. Pada hal yang bersifat orientasi, kita
semua semestinya ikut terlibat secara aktif. Pengingkaran dan pengabaian
sebagian pada sebagian yang lainnya dalam sebuah komunitas akan berakibat pada
tidak utuhnya orientasi kita terhadap sesuatu. Keterlibatan secara massif
menjadi penting. Mulai sekarang tampaknya kita harus belajar mempertajam
pemahaman mengenai berbagai perbedaan. Karena keberhasilan adalah fungsi dari
pembelajaran.


