Da’wah kampus,
dunia yang pastinya sudah tidak asing lagi terutama untuk para penggerak da’wah
di lingkungan kampus, yang sering disebut aktivis da’wah kampus.
Kata da’wah
kampus mungkin sudah sangat popular dan hamper semua orang yang terkecimpung
dalam kegiatan da’wah di dunia kampus sangat mengetahui dua kata ini, tapi
apakah kita sudah mengenal apakah itu da’wah kampus? Apakah da’wah kampus
adalah kegiatan da’wah yang dilakukan di kampus? Lalu kegiatan yang seperti apakah
itu? Atau jangan-jangan kita tidak mengenal apakah itu da’wah kampus.
Da’wah kampus
merupakan bagian tak terpisahkan dari proyek yang besar terhadap para pemuda
khususnya mahasiswa. Da’wah kampus merupakan puncak aktifitas dan medan yang
paling banyak berhasil dan memberikan pengaruh terhadap perubahan masyarakat.
Sekaligus medan yang lebih berat dan kompleks, karena berkembangnya berbagai
aliran gerakan dan pemikiran yang dapat merubah seseorang 1800 dari
keadaan semula baik yang bersifat positif maupun negative (Abdillah, 2009)[1]
Da’wah
kampus bukan suatu hal yang mudah, membutuhkan proses yang panjang, strategi
yang matang, dan kontribusi yang menguras energi. Konflik dan permasalahan
silih berganti sepanjang hari yang senantiasa menuntut kita agar bisa
bersinergi dan beradaptasi. Da’wah kampus juga sebagai proses tempat untuk
memberikan kebermanfaatan diri lebih untuk umat.
Lalu
kenapa harus ada da’wah kampus? Menurut Ustadz Mahfudz Siddiq, da’wah kampus
memiliki berbagai keistimewaan. Keistimewaan itu antara lain:
1. Kampus
adalah tempat berkumpulnya para pemuda dalam jangka waktu yang lama
2. Mahasiswa
adalah kelompok pilihan di tengah masyarakat
3. Kampus
merupakan gudang ilmu dan rumah penelitian
4. Da’wah
kampus merupakan wadah paling bagi
pencetakan kader dan melahirkan pemimpin
5. Gerakan
mahasiswa merupakan aktifitas gerakan yang paling luas di dunia
6. Kampus
adalah lingkungan yang terbuka dan bebas bagi berbagai bentuk pengembangan
pemikiran
7. Mahasiswa
memiliki ruang interaksi dan mobilitas yang cukup luas baik vertical (kaum
professional dan elit birokrasi) maupun horizontal (pelajar, mahasiswa, dan
masyarakat umum)
8. Mahasiswa
adalah calon orang tua untuk masa depan bagi generasi berikutnya untuk
membentuk keluarga islami dan bangunan masyarakat islami.
Da’wah kampus
bukanlah ladang amal yang pertama dan yang terakhir, tapi ia merupakan proses
berkelanjutan dari da’wah sekolah dan jembatan da’wah ke berbagai ranah
profesi. Untuk itu kita perlu untuk memahami paradigma kampus ini tidak secara
parsial, melainkan secara integral dalam da’wah yang lebih universal.[2]
Da’wah
kampus bukan hanya membuat kegiatan keislaman dengan berpusat di masjid saja,
apapun kegiatan kita dapat digunakan untuk sarana da’wah kampus. Dunia kampus
yang dipenuhi dengan berbagai karakter masyarakat di dalamnya. Masyarakat
kampus yang terutama dinamisnya sikap mahasiswa menuntut adanya suatu wadah
untuk menjaring sikap kritis dan progresif. Media penyaluran inspirasi dan
kontribusi nyata mahasiswa dalam perbaikan dan control social masyarakat.
Kampus yang di dalamnya terdiri dari berabagai agama dan keyakinan membuat
sangat dibutuhkannya sarana untuk senantiasa sebagai media penguatan aqidah dan
untuk optimalisasi fungsi pelayanan dan syiar keislaman kepada seluruh
masyarakat kampus. Dunia kampus yang merupakan tempatnya para intelektual muda
untuk senantiasa memberikan solusi untuk problematika masyarakat. Dan fungsi
mahasiswa yang berperan dalam mewujudkan ketahanan Negara dan pengentasan
kemiskinan.
Begitu
banyaknya peran kampus yang dapat kita optimalkan dalam proses da’wah kampus,
semakin menuntut kreatifitas kita dalam membuat inovasi dan membaca celah
peluang ekspansi da’wah kampus.
Sebagai
seorang mahasiswa, dan penggerak da’wah segala kegiatan dan tingkah laku kita
pasti tak akan lepas dari segala bentuk pemantauan dan perhatian masyarakat
kampus. Keaktifan kita di kelas dan
keseriusan kita dalam berbagai kegiatan akademik dapat digunakan sebagai
salah satu sarana syiar kita, dan membuktikan bahwa kita bukan orang yang
main-main dalam berjuang dalam da’wah, dengan bukti nyata pada tanggung jawab
kita terhadap amanah akademik kita.
Sikap
disiplin dan jujur, merupakan sikap penting yang juga harus dimiliki seorang
penggerak da’wah. Berusaha jujur akan kemampuan dan keterbatasan diri, dengan tidak mencontek dan titip tanda tangan,
merupakan bukti nyata.
Sebagai
seorang akademisi dan penggerak da’wah yang senantiasa berinovasi, senantiasa
membaca peluang-peluang untuk menambah kebermanfaatan diri dengan menambah
ekspansi da’wah kita, dengan berusaha membumikan kalimat Allah dimana pun
berada, tak luput seperti kantin, laboratorium, perpustakaan, bahkan tempat
nongkrong.
Dan
yang terpenting dalam segala hal yang dilakukan untuk da’wah dimanapun berada,
tak terkecuali da’wah kampus yaitu menjaga KEBAROKAHAN
da’wah, baik berasal dari cara, maupn prosesnya. Tetap menjaga batasan-batasan
syariah, merupakan hal semakin pudar dari para penggerak da’wah itu sendiri.
Perkembangan
zaman yang semakin cepat, menuntut para penggerak da’wah pun dapat melakukan
pengembangan dalam proses da’wah, dan hal ini tak kan luput dengan tuntutan
untuk senantiasa penambahan dan penguatan kapasitas penggerak da’wah tersebut.
Tradisi belajar dan mengajarkan yang harus senantiasa dijaga dan dioptimalkan
untuk mencari solusi untuk permasalahan umat.
Tarbiyah
(pendidikan) adalah suatu proses yang menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap
hingga mencapai batas kesempurnaannya. Berdasarkan makna tumbuh dan berkembang
tersebut, Abdurrahman Al-Bani mengambil empat unsure penting dalam pendidikan
1. Menjaga
dan memelihara fitrah objek didik
2. Mengembangkan
bakat dan potensi objek didik sesuai dengan kekhasan masing-masing
3. Mengarahkan
potensi dan bakat tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan, dan
4. Dilakukan
secara bertahap[3]
Proses
pendidikan yang membutuhkan waktu tidak cepat, membutuhkan energi yang tidak
sedikit dan membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Kita perlu refleksi
sejenak, tentang sudahkah kita tarbiyah?
1. Kita
sudah tarbiyah jika kita terbuka terhadap perubahan
2. Kita
sudah tarbiyah jika mampu bersikap tegas dan menghindarkan diri dari sikap
agresif
3. Kita
sudah tarbiyah jika kita menjadi pribadi yang proaktif
4. Kita
sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang memiliki sikap mawas diri
5. Kita
sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang mandiri
6. Kita
sudah tarbiyah jika kita adalah sosok yang berperasaan, tetapi tidak emosional
7. Kita
sudah tarbiyah jika kita sanggup belajar dari kesalahan
8. Kita
sudah tarbiyah jika hidup di masa sekarang, bersikap realistis, dan berpikir
relatif[4]
Suatu hal yang
berperan penting dalam banyak hal adalah orientasi, termasuk juga dalam
tarbiyah. Orientasi menentukan seberapa ‘nilai’ diri kita hari ini dan bahkan
menentukan seberapa jauh kita akan beranjak dari titik dimana kita berada hari
ini. Bagaimana dan kemana seorang kader akan bergerak dengan tarbiyah,
sebagiannya ditentukan oleh orientasinya terhadap tarbiyah pada hari ini.
Orientasi kita
hari ini berpengaruh pada isi atau value kita hari ini dan Orientasi kita hari
ini berpengaruh pada masa depan kita.
Sebuah kegagalan
jika orientasi kita didominasi oleh sebagian dan mengabaikan sebagian yang
lain. Karena, jika dominasi dipegang oleh pihak yang agak aktif maka kelompok
agak aktif akan mendefinisikan pihak-pihak yang cukup aktif sebagai tidak aktif
dan mendefinisikan kelompok aktif sebagai terlalu aktif. Demikian pula akan
terjadi hal yang sama jika dominasi terjadi oleh pihak yang lain.
Orientasi
menuntut keterlibatan segenap kita pada pembentukan orientasi itu sendiri. Pada
hal yang bersifat orientasi, kita semua semestinya ikut terlibat secara aktif.
Pengingkaran dan pengabaian sebagian pada sebagian yang lainnya dalam sebuah
komunitas akan berakibat pada tidak utuhnya orientasi kita terhadap sesuatu.
Keterlibatan secara massif menjadi penting. Mulai sekarang tampaknya kita harus
belajar mempertajam pemahaman mengenai berbagai perbedaan. Karena keberhasilan
adalah fungsi dari pembelajaran.[5]