Cari Blog Ini

Rabu, 27 Juni 2012

da'wah kampus


Da’wah kampus, dunia yang pastinya sudah tidak asing lagi terutama untuk para penggerak da’wah di lingkungan kampus, yang sering disebut aktivis da’wah kampus.
Kata da’wah kampus mungkin sudah sangat popular dan hamper semua orang yang terkecimpung dalam kegiatan da’wah di dunia kampus sangat mengetahui dua kata ini, tapi apakah kita sudah mengenal apakah itu da’wah kampus? Apakah da’wah kampus adalah kegiatan da’wah yang dilakukan di kampus? Lalu kegiatan yang seperti apakah itu? Atau jangan-jangan kita tidak mengenal apakah itu da’wah kampus.
Da’wah kampus merupakan bagian tak terpisahkan dari proyek yang besar terhadap para pemuda khususnya mahasiswa. Da’wah kampus merupakan puncak aktifitas dan medan yang paling banyak berhasil dan memberikan pengaruh terhadap perubahan masyarakat. Sekaligus medan yang lebih berat dan kompleks, karena berkembangnya berbagai aliran gerakan dan pemikiran yang dapat merubah seseorang 1800 dari keadaan semula baik yang bersifat positif maupun negative (Abdillah, 2009)[1]
                Da’wah kampus bukan suatu hal yang mudah, membutuhkan proses yang panjang, strategi yang matang, dan kontribusi yang menguras energi. Konflik dan permasalahan silih berganti sepanjang hari yang senantiasa menuntut kita agar bisa bersinergi dan beradaptasi. Da’wah kampus juga sebagai proses tempat untuk memberikan kebermanfaatan diri lebih untuk umat.
                Lalu kenapa harus ada da’wah kampus? Menurut Ustadz Mahfudz Siddiq, da’wah kampus memiliki berbagai keistimewaan. Keistimewaan itu antara lain:
1.       Kampus adalah tempat berkumpulnya para pemuda dalam jangka waktu yang lama
2.       Mahasiswa adalah kelompok pilihan di tengah masyarakat
3.       Kampus merupakan gudang ilmu dan rumah penelitian
4.       Da’wah kampus merupakan wadah paling  bagi pencetakan kader dan melahirkan pemimpin
5.       Gerakan mahasiswa merupakan aktifitas gerakan yang paling luas di dunia
6.       Kampus adalah lingkungan yang terbuka dan bebas bagi berbagai bentuk pengembangan pemikiran
7.       Mahasiswa memiliki ruang interaksi dan mobilitas yang cukup luas baik vertical (kaum professional dan elit birokrasi) maupun horizontal (pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum)
8.       Mahasiswa adalah calon orang tua untuk masa depan bagi generasi berikutnya untuk membentuk keluarga islami dan bangunan masyarakat islami.
Da’wah kampus bukanlah ladang amal yang pertama dan yang terakhir, tapi ia merupakan proses berkelanjutan dari da’wah sekolah dan jembatan da’wah ke berbagai ranah profesi. Untuk itu kita perlu untuk memahami paradigma kampus ini tidak secara parsial, melainkan secara integral dalam da’wah yang lebih universal.[2]
                Da’wah kampus bukan hanya membuat kegiatan keislaman dengan berpusat di masjid saja, apapun kegiatan kita dapat digunakan untuk sarana da’wah kampus. Dunia kampus yang dipenuhi dengan berbagai karakter masyarakat di dalamnya. Masyarakat kampus yang terutama dinamisnya sikap mahasiswa menuntut adanya suatu wadah untuk menjaring sikap kritis dan progresif. Media penyaluran inspirasi dan kontribusi nyata mahasiswa dalam perbaikan dan control social masyarakat. Kampus yang di dalamnya terdiri dari berabagai agama dan keyakinan membuat sangat dibutuhkannya sarana untuk senantiasa sebagai media penguatan aqidah dan untuk optimalisasi fungsi pelayanan dan syiar keislaman kepada seluruh masyarakat kampus. Dunia kampus yang merupakan tempatnya para intelektual muda untuk senantiasa memberikan solusi untuk problematika masyarakat. Dan fungsi mahasiswa yang berperan dalam mewujudkan ketahanan Negara dan pengentasan kemiskinan.
                Begitu banyaknya peran kampus yang dapat kita optimalkan dalam proses da’wah kampus, semakin menuntut kreatifitas kita dalam membuat inovasi dan membaca celah peluang ekspansi da’wah kampus.
                Sebagai seorang mahasiswa, dan penggerak da’wah segala kegiatan dan tingkah laku kita pasti tak akan lepas dari segala bentuk pemantauan dan perhatian masyarakat kampus. Keaktifan kita di kelas dan keseriusan kita dalam berbagai kegiatan akademik dapat digunakan sebagai salah satu sarana syiar kita, dan membuktikan bahwa kita bukan orang yang main-main dalam berjuang dalam da’wah, dengan bukti nyata pada tanggung jawab kita terhadap amanah akademik kita.
                Sikap disiplin dan jujur, merupakan sikap penting yang juga harus dimiliki seorang penggerak da’wah. Berusaha jujur akan kemampuan dan keterbatasan diri, dengan tidak mencontek dan titip tanda tangan, merupakan bukti nyata.
                Sebagai seorang akademisi dan penggerak da’wah yang senantiasa berinovasi, senantiasa membaca peluang-peluang untuk menambah kebermanfaatan diri dengan menambah ekspansi da’wah kita, dengan berusaha membumikan kalimat Allah dimana pun berada, tak luput seperti kantin, laboratorium, perpustakaan, bahkan tempat nongkrong.
                Dan yang terpenting dalam segala hal yang dilakukan untuk da’wah dimanapun berada, tak terkecuali da’wah kampus yaitu menjaga KEBAROKAHAN da’wah, baik berasal dari cara, maupn prosesnya. Tetap menjaga batasan-batasan syariah, merupakan hal semakin pudar dari para penggerak da’wah itu sendiri.
Perkembangan zaman yang semakin cepat, menuntut para penggerak da’wah pun dapat melakukan pengembangan dalam proses da’wah, dan hal ini tak kan luput dengan tuntutan untuk senantiasa penambahan dan penguatan kapasitas penggerak da’wah tersebut. Tradisi belajar dan mengajarkan yang harus senantiasa dijaga dan dioptimalkan untuk mencari solusi untuk permasalahan umat.
                Tarbiyah (pendidikan) adalah suatu proses yang menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai batas kesempurnaannya. Berdasarkan makna tumbuh dan berkembang tersebut, Abdurrahman Al-Bani mengambil empat unsure penting dalam pendidikan
1.       Menjaga dan memelihara fitrah objek didik
2.       Mengembangkan bakat dan potensi objek didik sesuai dengan kekhasan masing-masing
3.       Mengarahkan potensi dan bakat tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan, dan
4.       Dilakukan secara bertahap[3]
Proses pendidikan yang membutuhkan waktu tidak cepat, membutuhkan energi yang tidak sedikit dan membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Kita perlu refleksi sejenak, tentang sudahkah kita tarbiyah?
1.       Kita sudah tarbiyah jika kita terbuka terhadap perubahan
2.       Kita sudah tarbiyah jika mampu bersikap tegas dan menghindarkan diri dari sikap agresif
3.       Kita sudah tarbiyah jika kita menjadi pribadi yang proaktif
4.       Kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang memiliki sikap mawas diri
5.       Kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang mandiri
6.       Kita sudah tarbiyah jika kita adalah sosok yang berperasaan, tetapi tidak emosional
7.       Kita sudah tarbiyah jika kita sanggup belajar dari kesalahan
8.       Kita sudah tarbiyah jika hidup di masa sekarang, bersikap realistis, dan berpikir relatif[4]
Suatu hal yang berperan penting dalam banyak hal adalah orientasi, termasuk juga dalam tarbiyah. Orientasi menentukan seberapa ‘nilai’ diri kita hari ini dan bahkan menentukan seberapa jauh kita akan beranjak dari titik dimana kita berada hari ini. Bagaimana dan kemana seorang kader akan bergerak dengan tarbiyah, sebagiannya ditentukan oleh orientasinya terhadap tarbiyah pada hari ini.
Orientasi kita hari ini berpengaruh pada isi atau value kita hari ini dan Orientasi kita hari ini berpengaruh pada masa depan kita.
Sebuah kegagalan jika orientasi kita didominasi oleh sebagian dan mengabaikan sebagian yang lain. Karena, jika dominasi dipegang oleh pihak yang agak aktif maka kelompok agak aktif akan mendefinisikan pihak-pihak yang cukup aktif sebagai tidak aktif dan mendefinisikan kelompok aktif sebagai terlalu aktif. Demikian pula akan terjadi hal yang sama jika dominasi terjadi oleh pihak yang lain.
Orientasi menuntut keterlibatan segenap kita pada pembentukan orientasi itu sendiri. Pada hal yang bersifat orientasi, kita semua semestinya ikut terlibat secara aktif. Pengingkaran dan pengabaian sebagian pada sebagian yang lainnya dalam sebuah komunitas akan berakibat pada tidak utuhnya orientasi kita terhadap sesuatu. Keterlibatan secara massif menjadi penting. Mulai sekarang tampaknya kita harus belajar mempertajam pemahaman mengenai berbagai perbedaan. Karena keberhasilan adalah fungsi dari pembelajaran.[5]


[1] Ari Abdillah. 2009. Paradigma Baru Da’wah Kampus hal:60
[2] Ari Abdillah. 2009. Paradigma Baru Da’wah Kampus hal:60-61
[3] Eko Novianto. 2010. Sudahkah Kita Tarbiyah? Hal:8
[4] Eko Novianto. 2010. Sudahkah Kita Tarbiyah? Hal:5-15
[5] Eko Novianto. 2010. Sudahkah Kita Tarbiyah? Hal:16-19